RADARTUBAN - Gedung Negara Grahadi di Surabaya menjadi sorotan setelah Sabtu malam terbakar saat aksi massa. Meski kini mengalami musibah, bangunan ini memiliki perjalanan panjang yang sarat makna.
Dibangun pada tahun 1795 oleh Residen Belanda Dirk van Hogendorp, gedung ini pada mulanya difungsikan sebagai rumah kebun dengan orientasi menghadap ke Sungai Kalimas.
Lokasi tersebut dipilih karena jalur air Kalimas merupakan transportasi utama pada masa itu.
Sejak awal, Gedung Negara Grahadi menjadi simbol kebesaran pemerintah kolonial di Jawa Timur dan menjadi bagian penting dari sejarah Grahadi yang panjang.
Pada tahun 1802, bangunan ini diubah orientasinya ke arah selatan, posisi yang dipertahankan hingga sekarang. Renovasi besar dilakukan di era Gubernur Jenderal Daendels sekitar 1810.
Dari sinilah Grahadi berkembang menjadi villa bergaya klasik dengan detail khas arsitektur kolonial, termasuk tiang-tiang tinggi, fasad simetris, serta sentuhan khas Eropa yang kental.
Tidak hanya sebagai kediaman resmi residen Belanda, gedung ini juga difungsikan untuk sidang Raad van Justitie dan berbagai acara kenegaraan.
Perubahan ini memperkuat peran Gedung Negara Grahadi sebagai pusat pemerintahan kolonial.
Setelah Indonesia merdeka, Gubernur Jawa Timur pertama, Raden Tumenggung Soerjo, menempati Grahadi sebagai kediaman resmi.
Namun sejak 1949 pada masa Gubernur Samadikoen, gedung ini difungsikan sebagai rumah dinas gubernur sekaligus pusat acara formal, sementara gubernur tinggal di tempat lain.
Sejak itu, berbagai kegiatan kenegaraan, seperti pelantikan pejabat dan upacara 17 Agustus, rutin digelar di halaman Grahadi. Perannya dalam sejarah Grahadi semakin kuat sebagai ruang simbolis bagi pemerintahan Jawa Timur.
Kini, meski Sabtu malam sempat terbakar hebat saat aksi massa, Gedung Negara Grahadi tetap diingat sebagai bangunan ikonik yang mencerminkan jejak arsitektur kolonial di Surabaya.
Dengan statusnya sebagai rumah dinas gubernur, gedung ini masih difungsikan sebagai pusat pertemuan, resepsi resmi, dan upacara negara.
Tidak bisa dipungkiri, perjalanan panjangnya dari era kolonial hingga kini menjadikan Grahadi sebagai salah satu aset sejarah terpenting Jawa Timur. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni