RADARTUBAN - Sejarah Etnis Tionghoa di Indonesia mencerminkan perjalanan panjang diaspora Tionghoa yang dimulai sejak abad ke-13, berkembang melalui pelbagai gelombang migrasi, dan kini menjadi bagian penting dari kekuatan ekonomi dan integrasi sosial bangsa.
Artikel ini mengulas jejak sejarah, kemajuan peradaban, serta kontribusi positif komunitas Tionghoa terhadap tanah air.
Masyarakat diaspora Tionghoa mulai tiba di Nusantara setidaknya sejak abad ke-13, ketika jalur maritim dagang Silk Road membuka relasi lintas Samudera Pasifik dan Hindia.
Gelombang besar migrasi terjadi pada akhir abad ke-16 hingga abad ke-19, dipicu oleh kebutuhan kerja dan peluang perdagangan, hingga populasi diaspora Tionghoa di Asia Tenggara meningkat secara signifikan.
Pada masa kolonial Belanda, komunitas ini sering ditempatkan sebagai lapisan menengah dalam struktur sosial — lebih tinggi dari pribumi, namun di bawah penjajah — yang menimbulkan ketegangan tetapi juga memberi peluang bagi diaspora Tionghoa berkembang secara ekonomi.
Gelombang migrasi besar dari provinsi selatan Tiongkok antara 1870–1930 menambah populasi diaspora Tionghoa dari sekitar 250 ribu menjadi lebih dari 1,25 juta orang.
Setelah kemerdekaan, muncul ketentuan dan perjanjian yang memaksa pilihan kewarganegaraan tunggal melalui Perjanjian Sino-Indonesia (1955) baru berlaku sejak 1960.
Bentuk diskriminasi mulai muncul lewat program “Benteng” dan desakan nama Indonesia dalam kebijakan pemerintah era 1960-an untuk mempercepat integrasi sosial diaspora Tionghoa.
Meskipun sempat ditekan, diaspora Tionghoa membangun institusi pendidikan, media berbahasa Tionghoa, dan asosiasi kekerabatan sebagai pilar budaya mereka.
Setelah 1998, banyak pembatasan dicabut, perayaan Imlek jadi hari libur nasional, dan tokoh-tokoh keturunan Tionghoa menjadi figur publik di pemerintahan seperti Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) atau Mari Pangestu.
Kontribusi positif:
• Peran ekonomi: Komunitas diaspora Tionghoa dikenal piawai dalam perdagangan, investasi, dan memperkuat sektor swasta dalam negeri — memperkuat peran ekonomi nasional.
• Integrasi sosial: Kini mereka semakin terlibat dalam politik, kebudayaan, dan pendidikan, menciptakan harmonisasi antar-etnis dan memperkuat integrasi sosial.
• Pengayaan budaya: Tradisi dan kuliner Tionghoa telah memperkaya mozaik budaya Indonesia secara luas.
Melihat kondisi tanah air yang sedang tidak baik-baik saja, penting bagi masyarakat untuk tidak mudah terprovokasi isu SARA yang sengaja dimainkan oleh pihak-pihak tertentu.
Sejarah Etnis Tionghoa di Indonesia sudah membuktikan bahwa mereka adalah bagian dari perjalanan bangsa ini. Menghadirkan konflik berbasis etnis hanya akan merusak persatuan yang telah dibangun dengan susah payah.
Kita juga sering menikmati hasil kontribusi etnis Tionghoa tanpa disadari. Ragam kuliner seperti koloke, fuu yung hai, atau capcay telah menjadi bagian dari menu sehari-hari masyarakat Indonesia.
Kehadiran makanan ini memperkaya khazanah kuliner nusantara dan menjadi bukti nyata integrasi sosial yang berjalan secara alami.
Sebagaimana dicontohkan oleh Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur), yang membuka jalan bagi pengakuan budaya Tionghoa, masyarakat Indonesia dituntut untuk menjaga kebersamaan.
Jangan biarkan isu SARA memecah belah bangsa. Sebaliknya, mari terus mengapresiasi kontribusi positif dari semua etnis, termasuk etnis Tionghoa, yang telah mewarnai sejarah, peradaban, hingga kehidupan sehari-hari kita. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni