Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Mengenang Pernikahan Zaman Dulu: Ketika Sayur Mayur Untuk Buwuh dan Tembok Rumah Bisa Dijebol

M. Afiqul Adib • Jumat, 5 September 2025 | 17:10 WIB
Ilustrasai pernikahan Jawa.
Ilustrasai pernikahan Jawa.

RADARTUBAN - Lagi musim nikah. Undangan berseliweran, status Instagram penuh foto pelaminan, dan grup WhatsApp keluarga sibuk bahas seragam.

Tapi di tengah gegap gempita pernikahan masa kini, saya teringat cerita-cerita dari orang-orang sepuh tentang bagaimana pernikahan dulu dijalankan.

Zaman dulu maksud saya adalah sebelum tahun 1980-an. Ketika menikah bukan soal dekorasi mewah, tapi soal gotong royong dan hitung-hitungan hari yang rumit.

Budaya memang selalu berjalan. Dia berubah, beradaptasi, dan kadang hilang pelan-pelan.

Tapi mendengarkan kisah pernikahan zaman dulu membuat saya sadar: ada banyak hal yang dulu terasa repot, tapi justru penuh makna.

Misalnya soal logistik. Dulu, kalau ada yang menikah, kursi bukan disewa dari vendor, tapi dipinjam dari tetangga. Kadang dari balai desa.

Dan setelah acara selesai, pengembalian kursi bisa jadi drama tersendiri. Salah kirim, salah jumlah, atau bahkan lupa siapa yang punya.

Belum lagi urusan piring, sendok, dan tikar. Semua serba pinjam, serba gotong royong.
Buwuh pun beda.

Kalau sekarang orang datang ke kondangan bawa amplop isi uang, dulu buwuh bisa berupa makanan ringan, beras, atau sayur mayur. Iya, sayur.

Ada yang bawa kacang panjang, ada yang bawa daun singkong, bahkan ada yang bawa telur satu plastik.

Bukan karena pelit, tapi karena itu bentuk kontribusi. Dan semua itu diterima dengan senyum, bukan dengan kalkulator.

Meski demikian, tradisi juga kadang ebih rumit. Salah satunya adalah hitung-hitungan hari. Ada istilah nogo dino—naga hari—yang dipercaya menentukan arah masuk pengantin ke rumah.

Saya ingat kakak saya dulu, saat menuju rumah pengantin pria, tidak lewat pintu utama. Katanya arah selatan ke utara itu “kena nogo dino.”

Maka dicarikan pintu lain. Bahkan ada yang sampai menjebol tembok rumah demi bisa lewat arah yang dianggap aman secara spiritual.

Bayangkan, kegiatan sekali seumur hidup sampai bikin pemilik rumah rela bongkar dinding. Bukan karena gabut, tapi karena menghormati tradisi.

Karena dalam budaya Jawa, arah, hari, dan langkah selalu punya makna. Dan meski kita sekarang mungkin tidak sepenuhnya percaya, kita tetap bisa menghargainya.

Tentu, kita tak boleh serta merta meremehkan budaya ini. Bukan berarti harus meyakini juga.

Tapi mengenang tradisi lama adalah cara kita memahami bahwa pernikahan bukan sekadar seremoni, tapi juga cerminan nilai-nilai sosial. Gotong royong, rasa hormat, dan kebersamaan.

Pernikahan zaman dulu mungkin tidak punya dekorasi Instagramable, tapi punya cerita yang bisa diwariskan.

Dan di tengah hiruk-pikuk wedding modern, mengenang masa lalu adalah cara kita tetap berpijak. Karena namanya juga budaya, ia tidak selalu logis, tapi selalu punya makna. (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
#pelaminan #instagram #Nogo Dino #sayuran #tradisi #kursi #pernikahan #jawa