RADARTUBAN — Aktivitas belajar di SMAN 37 Jakarta, Tebet, Jakarta Selatan, terusik kebisingan kereta api yang melintas di jalur rel tepat di samping sekolah.
Suara dentuman roda besi dan klakson kereta yang mencapai 60–70 desibel ini melampaui ambang batas kebisingan di lingkungan pendidikan (55 desibel) sesuai Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 48 Tahun 1996.
Kondisi tersebut membuat guru dan siswa harus menghentikan pelajaran setiap kali kereta melintas.
“Getarannya terasa sampai meja, air minum ikut bergoyang. Suara guru juga enggak kedengaran,” keluh Azka, 16 dan Farhan, 16, siswa SMAN 37 lantaran konsentrasinya sering buyar.
Hendra (35, nama samaran), penjaga sekolah, menyebut kereta melintas setiap 3–5 menit. “
Mungkin yang disayangkan terlalu dekat, pinggir banget sama relnya,” katanya.
Selain kebisingan, jarak sekolah yang hanya sekitar tiga meter dari jalur rel juga dinilai rawan keselamatan.
Gerbang sekolah berada tepat di tepi rel sehingga siswa harus ekstra hati-hati keluar masuk sekolah.
“Alhamdulillah selama saya jaga belum pernah ada kecelakaan, tapi masih ada siswa yang nyebrang sembarangan,” kata Arman (28, nama samaran), penjaga pintu kereta.
Para siswa berharap pemerintah memindahkan lokasi sekolah ke tempat yang lebih aman, namun tidak terlalu jauh dari Tebet agar tetap mudah dijangkau.
“Harapannya enggak jauh dari sini. Banyak teman-teman yang rumahnya dekat, transportasinya juga enak,” ujar Azka.
Farhan menambahkan, lokasi sekolah saat ini dekat dengan Stasiun Cawang, Stasiun Tebet, dan halte Jaklingko.
Permintaan relokasi ini sudah disampaikan calon wakil gubernur independen Jakarta, Kun Wardana Abyoto, bersama Kepala SMAN 37 Jakarta Lilik Setyo Hariyanti kepada Gubernur Jakarta Pramono Anung.
Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta, Nahdiana, mengatakan pembangunan gedung baru masuk dalam rencana detail engineering design (DED) 2025. Targetnya, gedung baru SMAN 37 sudah bisa digunakan pada 2027. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni