Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Tan Khoen Swie: Penerbit Tionghoa yang Mengabadikan Sastra Jawa, Bikin Kediri Tak Hanya Gudang Garam

Tulus Widodo • Selasa, 9 September 2025 | 01:10 WIB
Tan Khoen Swie, penerbit Tionghoa dari Kediri
Tan Khoen Swie, penerbit Tionghoa dari Kediri

RADARTUBAN – Banyak orang mengenal Kediri hanya lewat pabrik rokok raksasa Gudang Garam.

Padahal, jauh sebelum asap kretek mengepul dari kota ini, ada seorang Tionghoa visioner yang menjadikannya pusat literasi dan kebudayaan Jawa. Namanya: Tan Khoen Swie.

Lahir di Wonogiri tahun 1884, Tan Khoen Swie bukanlah sosok bangsawan atau pejabat kolonial.

Dia tumbuh sebagai tukang rakit penyeberangan Bengawan Solo sebelum akhirnya merantau ke berbagai kota.

Dari pengembaraan itu ia belajar bahasa Hakka, menikah dengan perempuan Surabaya bernama Liem Gio Nio, lalu menetap di Kediri.

Di kota inilah Tan Khoen Swie benar-benar menjelma sebagai sosok penting: fasih berbahasa Jawa, piawai membaca aksara Jawa, serta tenggelam dalam dunia budaya, wayang, dan filsafat Kejawen.

Dia hidup sederhana, vegetarian, tekun berpuasa, dan rajin bermeditasi. Namun, dari spiritualitas itu lahirlah tekad besar: membuka penerbitan buku.

Tahun 1915, Tan Khoen Swie mendirikan Boekhandel Tan Khoen Swie di Jalan Dhaha, Kediri. Fakta ini mengejutkan—dia berdiri tiga tahun lebih dulu dari Balai Pustaka, penerbit resmi Hindia Belanda.

Bedanya, jika Balai Pustaka disubsidi kolonial, Tan Khoen Swie berdiri dengan modal keberanian dan idealisme.

Fokusnya jelas: menerbitkan karya-karya Jawa dalam huruf Jawa, huruf Latin berbahasa Jawa, serta berbahasa Melayu.

Topiknya luas—dari filsafat, sejarah, masakan, pertanian, pendidikan, agama, hingga primbon dan ilmu kebatinan. Bahkan, dia tak segan menerbitkan karya tentang seksualitas ala budaya Jawa.

Dari tangannya lahir buku-buku monumental:

Primbon Jayabaya (Ronggowarsito)

Serat Wedhatama (Mangkunegara IV)

Serat Kalatidha (Ronggowarsito)

Serat Gatholoco

Serat Dharmogandul

Serat Nitimani (kamasutra versi Jawa)

Serat Babad Kediri

Dia menjadikan pengetahuan kraton yang biasanya terbatas untuk kalangan elite berubah menjadi bacaan rakyat. Intelektual Jawa modern berhutang besar pada keberanian Tan Khoen Swie.

Di tengah politik diskriminatif kolonial, Tan Khoen Swie tetap mempertahankan identitas Tionghoa-nya. Dia aktif di organisasi Tionghoa Kediri, Kioe Kok Thwan, yang pada 1935 ikut menentang kolonialisme Belanda.

Dia bahkan menerbitkan buku-buku bernafaskan nasionalisme, seperti Atoeran dari Hal Melakoeken Hak Perkoempoelan dan Persidangan Dalem Hindia-Nederland (1932) karya R. Boediharjo, serta Tjinta Kebaktian Pada Tanah Air (1941). Ini sikap berani, mengingat sensor Belanda bisa kapan saja mencabut izin terbit.

Konon, rumahnya di Kediri juga sering dijadikan tempat meditasi para sastrawan, bahkan persinggahan eks-pengikut Pangeran Diponegoro.

Tan Khoen Swie wafat di Kediri tahun 1953. Usaha penerbitannya sempat diteruskan anaknya, Tan Biang Liong.

Namun, pada 1963 penerbit itu berhenti total, setelah sempat terjerat kasus karena menerbitkan Aji Asmorogomo—kitab teknik hubungan seksual dengan ilustrasi yang dianggap terlalu vulgar.

Kini, jejak Tan Khoen Swie lebih sering dilupakan. Padahal, tanpa dirinya, banyak karya sastra Jawa mungkin hanya tersimpan di keraton, tidak pernah dinikmati masyarakat luas.

Ironisnya, hingga hari ini, pemerintah Republik Indonesia belum sekalipun memberi penghargaan atas jasa besarnya bagi literasi Nusantara.

Kediri memang dikenal sebagai kota rokok. Tetapi sejarah mencatat, kota ini juga pernah jadi pusat pencerahan literasi berkat seorang Tionghoa visioner bernama Tan Khoen Swie.

Dialah bukti bahwa menjadi penerbit bisa menjadi jalan hidup, sekaligus ladang perjuangan mencerdaskan bangsa.

Jadi, saat Anda membuka lembaran buku berbahasa Jawa, ingatlah: ada jejak tangan dingin Tan Khoen Swie di sana. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#budaya jawa #kediri #gudang garam #tionghoa #sastra #balai pustaka #Tan Khoen Swie