RADARTUBAN - Setiap generasi punya caranya sendiri untuk memaknai pernikahan.
Ada yang menganggapnya sebagai ladang pahala, ada yang melihatnya sebagai proyek hidup bersama, dan ada pula yang menjadikannya sebagai konten Instagram. Tidak ada yang salah, hanya beda cara pandang.
Kalau kita menengok ke masa lalu—katakanlah era orang tua atau kakek-nenek kita—pernikahan bukan soal bahagia atau tidak. Yang penting: kewajiban terpenuhi, anak sekolah, dapur ngebul. Bahagia? Itu bonus.
Bahkan kadang, kebahagiaan pribadi dikorbankan demi kebahagiaan pasangan atau anak. Pernikahan adalah kerja sosial, bukan proyek personal.
Masuk ke era sekarang, pernikahan jadi lebih kompleks. Harus sudah punya ini-itu: rumah, kendaraan, tabungan, mental yang stabil, dan tentu saja foto prewedding yang estetik.
Pernikahan bukan lagi sekadar ijab kabul, tapi juga soal branding. Ada ekspektasi untuk bahagia, romantis, dan tetap produktif. Kalau bisa, sambil bikin konten.
Tentu ini bukan berarti generasi sekarang lebih dangkal. Justru mereka lebih sadar akan kebutuhan emosional dan psikologis.
Tapi ya itu tadi, tuntutannya jadi lebih banyak. Pernikahan bukan cuma soal bertahan, tapi juga soal tumbuh. Dan kadang, tumbuh itu mahal.
Di sinilah letak pentingnya relevansi. Ketika memberi nasihat soal pernikahan, kita perlu tahu dulu siapa yang diajak bicara.
Jangan samakan nasihat untuk generasi yang menikah di usia 20 dengan yang menikah di usia 30 sambil nyicil apartemen. Value-nya beda. Pemahamannya beda. Bahkan definisi “bahagia” pun bisa beda.
Maka, alih-alih menyalahkan atau membenarkan satu generasi, lebih baik kita menjelenterehkan. Menjelaskan dengan empati. Karena pernikahan bukan soal benar atau salah, tapi soal cocok atau tidak. Dan kecocokan itu, kadang lebih sulit dicari daripada jodoh itu sendiri.
Pernikahan adalah ruang tafsir. Tiap generasi menafsirkan dengan caranya sendiri. Ada yang menjadikannya sebagai bentuk pengabdian, ada yang melihatnya sebagai ruang aktualisasi. Semua sah. Yang penting, jangan saling menghakimi.
Karena pada akhirnya, pernikahan bukan soal siapa yang paling benar, tapi siapa yang paling bisa bertahan dengan cinta, dengan logika, dan kadang, dengan cicilan. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni