RADARTUBAN- Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan rencana menarik dana pemerintah sebesar Rp 200 triliun yang tersimpan di Bank Indonesia (BI) untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi nasional.
"Saya melihat sistem finansial kita agak kering, sehingga pertumbuhan ekonomi melambat. Dua tahun terakhir masyarakat sulit mencari pekerjaan karena ada kekeliruan kebijakan, baik dari sisi moneter maupun fiskal. Kementerian Keuangan bisa berperan memperbaiki kondisi ini," ujar Purbaya usai menghadiri rapat kerja bersama Komisi XI DPR RI di Jakarta, Rabu.
Menurutnya, salah satu penyebab melemahnya pertumbuhan adalah lambatnya penyaluran belanja pemerintah. Hal itu membuat perputaran dana di sistem keuangan terganggu.
"Pemerintah rajin menarik pajak, lalu masuk ke bank sentral. Kalau segera dibelanjakan tidak masalah, tapi kenyataannya tidak demikian," jelasnya.
Purbaya menilai dana pemerintah yang mengendap di BI bisa dimanfaatkan untuk menggerakkan kembali roda moneter dan fiskal.
Dari sisi moneter, dana tersebut dapat memperkuat likuiditas perbankan. Bank nantinya akan terdorong menyalurkan dana ke sektor produktif agar tidak terbebani biaya dana dan sekaligus memperoleh keuntungan.
"Saya ingin memaksa mekanisme pasar berjalan dengan memberi ‘amunisi’ ke perbankan. Dengan begitu, mereka akan berpikir lebih keras mencari return yang lebih tinggi," tambahnya.
Sementara dari sisi fiskal, Purbaya menegaskan akan mempercepat realisasi belanja pemerintah agar perputaran ekonomi segera terwujud.
Ia berkomitmen meninjau langsung proses belanja kementerian/lembaga (K/L) dan turun tangan bila terdapat hambatan dalam pelaksanaannya.
Dengan langkah tersebut, ia optimistis mesin moneter dan fiskal dapat bekerja selaras dan lebih optimal.
Bila strategi ini berhasil, Purbaya berencana melanjutkannya hingga memberikan dampak signifikan bagi sistem keuangan dan perekonomian nasional.
Lebih lanjut, ia menegaskan koordinasi dengan BI akan terus dilakukan guna memastikan implementasi strategi ini berjalan efektif.(*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni