RADARTUBAN – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa optimistis kebijakan mengalihkan dana pemerintah yang mengendap di Bank Indonesia (BI) sebesar Rp 200 triliun akan menjadi pemicu percepatan pertumbuhan kredit perbankan sekaligus memperbaiki likuiditas ekonomi nasional.
Dana Segar Disalurkan ke Enam Bank
Dilansir cnbcindonesia.com, Purbaya menjelaskan, tahap pertama kebijakan ini mulai berlaku Jumat (12/9).
Dana yang bersumber dari Saldo Anggaran Lebih (SAL) dan Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SiLPA) akan disalurkan ke enam bank.
Enam bank tersebut terdiri dari empat bank Himbara dan dua bank syariah.
Menurutnya, kebijakan tersebut akan memperbesar peredaran uang primer (M0) sehingga likuiditas perekonomian semakin sehat.
“Uang yang selama ini nganggur bisa bergerak di sistem keuangan untuk mendorong kredit,” kata Purbaya usai rapat kerja dengan Komisi XI DPR, Kamis malam (11/9).
Dorong Pertumbuhan Kredit
Saat ini, pertumbuhan kredit perbankan mengalami perlambatan.
Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, pada Juli 2025 kredit tumbuh 7,03 persen (yoy) menjadi Rp8.043,2 triliun.
Angka itu lebih rendah dibanding Juni yang mencapai 7,77 persen (yoy).
Purbaya optimistis tambahan likuiditas dari pemerintah akan memaksa bank lebih aktif menyalurkan kredit ke sektor riil.
“Kalau bank punya uang berlebih dan tidak disalurkan, mereka rugi. Jadi mau tidak mau harus disalurkan ke kredit,” ujarnya.
Instruksi Khusus ke Perbankan
Lebih lanjut, Purbaya menegaskan agar dana segar tersebut tidak digunakan untuk membeli surat berharga negara (SBN) atau instrumen jangka pendek lain seperti SRBI.
“Kita sudah bicara dengan pihak bank, jangan beli SRBI atau SBN,” tegasnya.
Ia meyakini, dengan peredaran uang yang lebih cepat di sistem keuangan, ekonomi nasional akan ikut terdorong.
“Hampir pasti uang akan berpindah dalam sistem ekonomi, pertumbuhan ekonomi akan lebih cepat, dan kredit juga akan tumbuh lebih tinggi dari sekarang,” pungkasnya. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni