RADARTUBAN – Kalangan Nahdlatul Ulama (NU) belakangan dibuat resah oleh dua peristiwa yang dinilai mencederai umat.
Pertama, terungkapnya kasus korupsi kuota haji 2024 yang merugikan ribuan calon jemaah.
Kedua, kedatangan Peter Berkowitz, tokoh yang dikenal pro-Zionis, ke Indonesia untuk menyampaikan kuliah umum.
Keresahan Para Kiai dan Warga Nahdliyin
Musytasyar PWNU Yogyakarta, KH Asyhari Abdullah Tamrin, menyebut keresahan ini dirasakan para kiai pesantren, pengurus NU, ustaz, hingga warga Nahdliyin di akar rumput.
Ia menilai penyusupan paham zionisme merupakan ancaman serius bagi NU.
“Zionisme yang masuk ke dalam tubuh jam’iyyah dapat dikenali melalui perubahan gagasan, sikap, dan perilaku sebagian orang yang terpengaruh. Ini sangat berbahaya,” tegas Kiai Asyhari, Minggu (14/8).
Baca Juga: Ustaz Khalid Basalamah Diperiksa KPK, Disorot Pilih Haji Khusus Meski Sudah Bayar Furoda
Ancaman terhadap Marwah NU
Mantan Rais Syuriyah PWNU Yogyakarta itu menegaskan, penyusupan ideologi berbahaya bisa meruntuhkan marwah NU.
Selama ini, NU dikenal luas sebagai rujukan umat Islam dunia karena konsistensinya menjaga Islam ala Ahlussunnah wal Jama’ah.
Ia menekankan pentingnya menjaga kehormatan organisasi. “Lebih baik tubuh kita yang terluka, daripada harga diri dan akal sehat kita terciderai,” ujarnya mengutip syair kitab Irsyadul Fuhul.
Menurutnya, menjaga kehormatan adalah bagian dari tujuan syariat, sejajar dengan perlindungan agama, jiwa, akal, harta, dan keturunan.
Korupsi Kuota Haji Lukai Calon Jemaah
Terkait kasus kuota haji, Asyhari menilai praktik korupsi itu bukan hanya merugikan negara, tetapi juga melukai ribuan calon jemaah yang telah puluhan tahun menunggu kesempatan beribadah.
“Korupsi semacam ini tidak hanya menciderai NU, tetapi juga menghancurkan rasa keadilan yang seharusnya ditegakkan,” tandasnya. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni