RADARTUBAN - Negara seringkali tergoda untuk mencetak uang dalam jumlah besar sebagai solusi cepat melunasi hutang.
Namun, mencetak uang sembarangan justru bisa memicu inflasi, merusak kepercayaan mata uang, dan berakhir merugikan rakyat.
Karena itulah pemerintah tetap harus memungut pajak sebagai sumber utama penerimaan yang sehat dan berkelanjutan.
Kenapa Mencetak Uang Banyak Tidak Efektif?
1. Inflasi dan bahkan Hyperinflation
Ketika pemerintah mencetak uang lebih banyak dari jumlah barang dan jasa yang tersedia, harga-harga pasti naik.
Inilah yang disebut inflasi.
Dalam kasus ekstrem, inflasi bisa melesat jadi hyperinflation.
Contoh nyatanya terjadi di Zimbabwe, ketika harga roti bisa melonjak ratusan kali lipat hanya dalam waktu beberapa bulan.
Analogi sederhana: Bayangkan ada 10 kue dan 10 orang.
Kalau tiba-tiba ada 20 lembar uang, tapi kuenya tetap 10, otomatis harga kue akan naik karena semua orang berebut membelinya.
2. Kreditor dan Hutan dalam Mata Uang Asing
Sebagian hutang negara dibayarkan dalam dolar atau mata uang asing lainnya.
Kalau negara hanya mencetak uang rupiah, lalu menukarnya dengan dolar, nilai tukar rupiah bisa jatuh.
Akibatnya, jumlah rupiah yang dibutuhkan untuk membayar hutang malah semakin besar.
Kepercayaan mata uang di mata dunia pun ikut melemah.
Analogi sederhana: Ibaratnya kamu bayar utang ke teman dalam bentuk koin mainan.
Awalnya mungkin diterima, tapi lama-lama temanmu sadar nilainya palsu dan minta dibayar lebih mahal atau bahkan menolak sama sekali.
3. Risiko Kepercayaan dan Stabilitas Ekonomi
Kalau publik melihat pemerintah hobi mencetak uang untuk menutup defisit, mereka bisa kehilangan kepercayaan mata uang lokal.
Investor enggan menaruh modal, orang kaya lebih memilih menyimpan aset dalam bentuk emas atau dolar, dan arus modal kabur ke luar negeri.
Analogi sederhana: Seperti kalau kamu selalu minta utang ke tetangga tanpa pernah mengembalikan, lama-lama semua tetangga jadi tidak percaya lagi dan menutup pintu ketika kamu datang.
Mengapa Pajak Tetap Penting?
1. Sumber Penerimaan Negara yang Stabil
Pajak menjadi cara paling realistis bagi negara untuk membiayai kebutuhan rakyat, dari infrastruktur hingga pendidikan.
Tidak seperti mencetak uang, penerimaan pajak tidak otomatis memicu inflasi.
2. Keadilan dalam Berkontribusi
Dengan pajak, beban ditanggung bersama secara proporsional.
Mereka yang berpenghasilan lebih besar bisa membayar lebih, sementara masyarakat kecil tetap bisa terlindungi.
3. Menjaga Ekonomi Tetap Sehat
Penerimaan pajak membantu pemerintah menjalankan kebijakan fiskal tanpa harus menambah utang atau mencetak uang.
Dengan begitu, kepercayaan mata uang tetap terjaga.
Meskipun mencetak uang tampak seperti jalan pintas, dampak negatifnya jauh lebih berbahaya: inflasi, runtuhnya kepercayaan mata uang, dan kekacauan ekonomi.
Pajak, meskipun sering terasa berat, adalah pondasi yang menjaga stabilitas keuangan negara.
Dengan kata lain, pajak ibarat gotong-royong finansial, sedangkan mencetak uang sembarangan hanya seperti menambal ban bocor dengan permen karet, mungkin menahan sebentar, tapi akhirnya tetap jebol. (*)
Editor : radar tuban digital