RADARTUBAN - Di tengah gempuran teori parenting modern, dari ASI eksklusif sampai MPASI organik, ada satu fenomena lokal yang tetap bertahan dan kadang bikin geleng-geleng kepala: bayi makan bata merah.
Iya, bata merah. Bukan bubur, bukan pisang, tapi benda keras yang biasa dipakai untuk membangun rumah.
Dan yang lebih mengejutkan, beberapa dari mereka tetap tumbuh sehat, bahkan sampai dewasa.
Fenomena ini bukan mitos. Di beberapa daerah, terutama pedesaan, cerita tentang bayi yang doyan makan bata merah bukan hal asing.
Ada yang mengunyahnya seperti camilan, ada yang menjilatnya seperti permen, dan ada pula yang menolak makan nasi tapi lahap menggerogoti bata.
Orang tua pun kadang bingung: antara khawatir dan pasrah.
Bukan Nutrisi, Tapi Naluri?
Secara medis, jelas ini tidak sehat. Bata merah tidak mengandung gizi, bisa mengandung debu, bahkan serpihan tajam.
Tapi entah bagaimana, tubuh bayi yang melakukannya tetap bertahan. Tidak semua, tentu. Tapi cukup banyak untuk membuat kita bertanya: apa yang sebenarnya terjadi?
Beberapa ahli menyebut ini sebagai bentuk pica, yaitu gangguan makan di mana seseorang mengonsumsi benda non-makanan.
Tapi dalam konteks lokal, kadang ini dianggap sebagai fase “nakal” atau “unik” yang akan hilang sendiri. Bahkan ada yang percaya bahwa bayi yang makan bata merah akan jadi kuat, tahan banting, dan tidak rewel.
Dan meski tidak ada bukti ilmiah yang mendukung, cerita-cerita semacam ini tetap hidup. Karena dalam masyarakat kita, pengalaman nyata kadang lebih dipercaya daripada jurnal kesehatan.
Bayi yang Menolak Nasi: Logika yang Tak Bisa Dipaksakan
Selain makan bata, ada pula fenomena bayi yang tidak mau makan nasi. Padahal nasi adalah makanan pokok, simbol kenyang, dan standar gizi keluarga Indonesia.
Tapi ada bayi yang lebih suka makan kerupuk, buah, atau bahkan hanya minum air. Orang tua pun panik, takut anaknya kurang gizi, lalu mulai mencoba berbagai cara: dari menyuapi sambil nyanyi sampai konsultasi ke bidan.
Namun, yang menarik adalah: beberapa bayi tetap tumbuh sehat meski tidak makan nasi. Mereka aktif, ceria, dan berat badannya stabil.
Ini menunjukkan bahwa tubuh manusia, terutama bayi, punya logika sendiri. Tidak selalu sesuai teori, tapi tetap bisa berfungsi.
Fenomena Bayi: Antara Aneh dan Adaptif
Fenomena-fenomena ini menunjukkan bahwa bayi bukan sekadar “makhluk kecil yang harus diatur.”
Mereka punya naluri, preferensi, dan kadang keanehan yang tidak bisa dijelaskan. Dan meski tidak semua kebiasaan mereka sehat, tubuh bayi punya kemampuan adaptasi yang luar biasa.
Tentu, ini bukan ajakan untuk membiarkan anak makan bata. Tapi ini adalah pengingat bahwa dalam dunia parenting, tidak semua hal bisa dijelaskan secara hitam-putih.
Ada ruang untuk keanehan, untuk cerita-cerita yang tidak masuk akal tapi nyata.
Bayi yang makan bata merah dan tetap hidup sampai dewasa adalah bukti bahwa hidup kadang tidak mengikuti buku panduan.
Mereka tumbuh di tengah logika yang tidak logis, tapi tetap bertahan. Dan mungkin, itu yang membuat mereka kuat.
Karena dalam hidup, tidak semua hal harus masuk akal. Kadang, yang penting bukan apa yang dimakan, tapi bagaimana tubuh dan cinta orang tua menghadapinya.
Dan kalau bata merah bisa jadi bagian dari cerita tumbuh kembang, maka dunia ini memang lebih ajaib daripada yang kita kira. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni