RADARTUBAN - Laporan Global Wealth and Lifestyle Report 2025 bikin kaget!
Jakarta resmi masuk daftar kota termahal di Asia, sejajar dengan Singapura, Hong Kong, dan Tokyo.
Ini jadi alarm serius: biaya hidup di ibu kota melesat cepat, mencekik kantong warga urban.
Singapura masih duduk di singgasana sebagai kota paling mahal se-Asia, mempertahankan reputasinya sebagai “surganya” biaya hidup premium.
Hong Kong tetap setia di posisi dua, kokoh sebagai pusat finansial dunia.
Shanghai merangsek ke peringkat tiga, cermin ledakan ekonomi Tiongkok yang tak terbendung.
Dubai menempel ketat di posisi empat dengan ekonomi mewah berbasis gaya hidup kelas atas.
Sementara Tokyo menutup lima besar dengan kombinasi unik tradisi dan kemewahan modern.
Asia Tenggara Poros Penting Pergeseran Gaya Hidup
Namun sorotan justru datang dari Asia Tenggara. Jakarta kini ikut meramaikan jajaran elite kota dengan biaya hidup selangit.
Laporan itu menegaskan, kenaikan biaya hidup di Jakarta dipicu ledakan ekonomi, tingginya permintaan konsumen, hingga masifnya pembangunan kota.
Imbasnya, harga sewa hunian, biaya transportasi, dan kebutuhan pokok makin tak terjangkau bagi warga menengah.
Bangkok juga ikut nongkrong di daftar mahal ini, ditopang industri pariwisata dan pesatnya pengembangan kota.
Fakta ini memperlihatkan bagaimana Asia Tenggara kian jadi poros penting pergeseran gaya hidup dan pusat finansial di kawasan Asia.
Kota lain yang juga masuk radar adalah Taipei, Mumbai, serta beberapa kota besar di Timur Tengah.
Masing-masing mencerminkan dinamika ekonomi unik yang mendorong biaya hidup melambung.
Tapi sorotan terbesar tetap pada Singapura, Jakarta, dan Bangkok—tiga kota yang menandai “era baru” mahalnya hidup di Asia Tenggara.
Kelompok Menengah Makin Tertekan
Para ekonom memperingatkan, jika tren ini terus berlanjut, kelompok menengah akan makin tertekan.
Pemerintah dan pelaku bisnis ditantang mencari solusi agar kota-kota besar tidak berubah menjadi eksklusif hanya untuk kaum berduit.
Mampukah Jakarta menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan keterjangkauan biaya hidup? Atau ibu kota akan berubah jadi “klub privat” yang hanya bisa dinikmati segelintir orang? (*)
Editor : Amin Fauzie