Bandara Soetta Tembus Top 3 Dunia, Tapi Masalah Macet dan Delay Masih Jadi Problem Serius. Bagaimana Solusinya?

Tulus Widodo • Dipublikasikan Selasa, 23 September 2025 | 22:50 WIB
Bandara Soekarno-Hatta raih peringkat ketiga bandara terbaik dunia 2025 untuk kategori bandara dengan 50–60 juta penumpang per tahun versi Skytrax. Foto adalah ilustrasi.
Bandara Soekarno-Hatta raih peringkat ketiga bandara terbaik dunia 2025 untuk kategori bandara dengan 50–60 juta penumpang per tahun versi Skytrax. Foto adalah ilustrasi.

RADARTUBAN – Prestasi membanggakan datang dari dunia penerbangan.

Bandara Soekarno-Hatta (Soetta) resmi menyabet peringkat ketiga bandara terbaik dunia 2025 untuk kategori bandara dengan 50–60 juta penumpang per tahun versi Skytrax.

Dilansir dari @seasia.stats, posisinya hanya kalah dari Doha Hamad (Qatar) dan Hong Kong International Airport.

Namun, di balik sorak-sorai ini, masih banyak pekerjaan rumah yang tak bisa diabaikan.

Antrean panjang di imigrasi, delay pesawat saat jam sibuk, dan kemacetan menuju bandara kerap membuat pengalaman penumpang jauh dari kata mulus.

Prestasi yang Tak Main-Main

Skytrax menyebut Soetta berhasil melakukan lompatan besar berkat modernisasi layanan dan infrastruktur.

Terminal yang lebih bersih, proses check-in yang terdigitalisasi, dan peningkatan konektivitas menjadi poin plus.

“Jakarta kini diakui dunia, artinya kualitas layanan kita memang naik kelas,” ujar pengamat transportasi udara.

Posisi Soetta ini juga menandai pergeseran peta penerbangan global.

Asia semakin mendominasi. Selain Soetta, Bangkok Suvarnabhumi (6) dan Kuala Lumpur (8) ikut mengisi daftar.

Realita di Lapangan

Meski demikian, ada sejumlah catatan yang harus menjadi perhatian serius.

Waktu tempuh menuju bandara dari pusat kota bisa mencapai dua jam saat jam sibuk, bahkan lewat tol bandara.

Penumpang yang datang mepet jadwal penerbangan sering dibuat panik.

Belum lagi masalah keterlambatan bagasi dan antrean imigrasi yang mengular ketika kedatangan internasional membludak.

“Peringkat internasional boleh naik, tapi kalau delay masih sering dan bagasi bisa hilang atau telat keluar, ya tetap bikin kesal,” keluh Dedi (35), salah satu penumpang reguler rute Singapura–Jakarta.

PR Berat untuk Bertahan

Jika ingin mempertahankan posisi tiga besar, PT Angkasa Pura II perlu kerja ekstra.

Perluasan kapasitas terminal, penambahan jalur transportasi massal seperti kereta bandara, hingga perbaikan sistem logistik bagasi harus jadi prioritas.

“Ranking Skytrax bisa jatuh kalau pelayanan menurun. Ini bukan piala tetap, tapi penilaian yang bisa berubah tiap tahun,” kata salah seorang pengamat transportasi.

Asia Tenggara Makin Jadi Poros Dunia

Meski begitu, prestasi Soetta tetap penting bagi citra Indonesia. Bersama Bangkok dan Kuala Lumpur, Indonesia kini jadi pemain kunci dalam peta penerbangan internasional.

“Ini peluang emas menarik lebih banyak wisatawan dan investasi. Tapi jangan terlena, justru harus makin berbenah,” tambahnya. (*)

Editor : Amin Fauzie
Soetta international airport penerbangan terbaik dunia 2025 bandara soekarno-hatta