Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Saham Rokok Kompak Melejit Naik Akibat Menteri Keuangan Baru Purbaya Yudhi Sadewa.

M Robit Bilhaq • Rabu, 24 September 2025 | 13:10 WIB
Saham rokok meroket setelah Purbaya Yudhi Sadewa dilantik jadi Menkeu
Saham rokok meroket setelah Purbaya Yudhi Sadewa dilantik jadi Menkeu

RADARTUBAN - Pada perdagangan hari ini Selasa (23/9) Saham perusahaan rokok kembali mengalami kenaikan signifikan pada perdagangan.

Empat perusahaan rokok yang terdaftar di bursa seluruhnya hari ini sahamnya mengalami kenaikan cukup besar.

Pukul 11.35 WIB, saham Indonesia Tobacco (ITIC) mengalami kenaikan terbesarnya yakni mencapai batas auto rejection atas (ARA), naik 24,87% ke harga Rp 482 per saham.

Sementara itu, perusahaan rokok terbesar di Indonesia Gudang Garam (GGRM), sahamnya juga naik 18,36% ke Rp 5.475 per saham, dan sempat menyentuh level ARA dalam perdagangan intraday hari ini.

Selanjutnya yang ketiga adalah Saham HM Sampoerna (HMSP), yang juga mengalami kenaikan tajam, naik 11,25% ke harga Rp 890 per saham, dengan kapitalisasi pasar kembali melewati Rp 100 triliun untuk yang pertama kalinya dalam lebih dari satu tahun.

Saham perusahaan rokok tersebut mengalami kenaikan terjadi setelah terjadi pergantian Menteri Keuangan, yaitu menteri lama, Sri Mulyani Indrawati, dikenal karena sering menaikkan pajak rokok secara terus menerus.

Sementara Menteri baru, Purbaya Yudhi Sadewa, menyatakan akan mengevaluasi lebih lanjut mengenai kebijakan peningkatan pajak rokok.

Saham perusahaan rokok mulai mengalami kenaikan yang signifikan sejak Menteri Keuangan baru Purbaya dilantik, dengan kenaikan saham tertinggi hingga mencapai 116% dan terendah mencapai di angka 66%.

Perusahaan rokok sahamnya terus melonjak setelah pernyataan Purbaya mengenai tarif cukai hasil tembakau (CHT) di Indonesia.

Terbaru, Purbaya juga berencana akan akan melawan rokok ilegal hingga ke dunia digital melalui platform belanja online.

Tarif cukai rokok saat ini, yang diketahui langsung oleh bawahan Purbaya tersebut dianggap dapat memberikan dampak besar terhadap kondisi bisnis industri tembakau.

Selain itu, Purbaya juga mengakui bahwa tingginya tarif CHT selama ini justru mengurangi pendapatan negara, karena saat tarif rendah pendapatan negara justru lebih tinggi.

"Terus, kalau turun gimana? Ini bukan saya mau turunin, ya. cuma diskusi. Kalau turun gimana? Kalau turun makin banyak income-nya. Kenapa dinaikin kalau gitu?" ungkap Purbaya.

Namun, Purbaya menjelaskan bahwa kebijakan tarif CHT yang tinggi selama ini diterapkan pemerintah dengan tujuan yaitu untuk mengendalikan jumlah konsumsi rokok, bukan hanya untuk memperoleh pendapatan dari cukai.

Meskipun demikian, menurut Purbaya masih ada hal yang kurang bijak dalam mendesain kebijakan CHT sejauh ini, yaitu kurang memperhatikan para pekerja yang selama ini penghasilannya bergantung dari industri ini.

Karena, kebijakan CHT bertujuan menekan penggunaan rokok, tapi tidak disediakan jaminan lapangan kerja baru bagi para pekerjanya.

Oleh karena itu, Purbaya menegaskan bahwa di bawah kepemimpinannya kedean, kebijakan CHT akan diseimbangkan, antara menjaga kesehatan masyarakat dan mengendalikan konsumen, tapi tidak akan sampai mengancam industri rokok yang selama ini menjadi sumber penghidupan bagi banyak masyarakat. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#rokok ilegal #menteri keuangan #Purbaya Yudhi Sadewa #ITIC #cht #sri mulyani indrawati #pajak rokok #perusahaan rokok #gudang garam #Saham Rokok Naik