Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Program Makan Bergizi Bikin Geger: 5.000 Siswa Keracunan, Dapur SPPG Jadi Sorotan!

Tulus Widodo • Rabu, 24 September 2025 | 04:11 WIB
BRI bantu pembiayaan UMKM Aiko Maju di Sitaro yang menyuplai dapur umum MBG
BRI bantu pembiayaan UMKM Aiko Maju di Sitaro yang menyuplai dapur umum MBG

RADARTUBAN – Program Makan Bergizi (MBG) yang digadang-gadang pemerintah untuk memerangi stunting kini justru menuai badai kritik.

Dilansir dari Kumparan, Badan Gizi Nasional (BGN) mengungkap 4.771 kasus luar biasa (KLB) keracunan sepanjang 2025, dengan sebaran terbanyak di Jawa.

Data berbeda disampaikan Kantor Staf Presiden (KSP) yang mencatat lebih dari 5.000 siswa menjadi korban, dengan puncak kejadian terjadi pada Agustus 2025 di Jawa Barat.

Kepala BGN Dadan Hindayana tak menampik bahwa mayoritas kasus terjadi di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang baru berdiri. “Banyak SPPG yang masih beradaptasi, ini PR besar bagi kami,” ujarnya.

Dapur SPPG Jadi Biang Masalah

Kepala Staf Presiden Muhammad Qodari menegaskan persoalan bukan hanya soal menu, tapi soal higienitas.

“Faktor pemicu utama antara lain dapur yang kotor, proses pengolahan yang tidak sesuai standar, sampai kontaminasi silang yang seharusnya bisa dicegah,” tegasnya.

Fakta di lapangan memperkuat pernyataan itu. Dari 8.583 SPPG di seluruh Indonesia, hanya 34 yang sudah mengantongi Sertifikat Laik Higiene dan Sanitasi (SLHS).

Artinya, lebih dari 99 persen dapur penyedia makan bergizi belum memenuhi standar kebersihan nasional.

Program Tak Akan Dihentikan

Meski kasus keracunan melonjak, pemerintah memastikan program MBG tetap jalan. Namun, standar akan diperketat.

“Investigasi khusus sudah kami bentuk. Rekrutmen mitra dapur akan dibuat lebih transparan untuk mencegah pungutan liar sekaligus menjaga kualitas gizi,” kata Qodari.

Kritik Mengalir Deras

Sejumlah pengamat menilai kasus ini bisa meruntuhkan kepercayaan publik jika pemerintah tak bergerak cepat.

“Jangan sampai program yang tujuannya mulia justru menimbulkan krisis kesehatan baru,” ujar seorang pemerhati gizi publik.

Kasus ini menjadi alarm keras bagi pemerintah daerah dan pengelola dapur SPPG.

Jika tak segera dibenahi, bukan hanya target penurunan stunting yang gagal, tapi juga keselamatan jutaan anak sekolah yang terancam setiap hari.

MBG di Persimpangan Jalan: Antara Target Stunting dan Nyawa Anak Sekolah

Angka KLB Tinggi = Alarm Nasional

Dengan 4.771 kasus KLB keracunan (versi BGN) dan 5.000+ siswa jadi korban (versi KSP), artinya hampir setiap hari ada puluhan kasus keracunan di sekolah. Ini bukan lagi kasus insidental, tapi sinyal sistemik bahwa rantai penyediaan pangan MBG bocor di banyak titik.

99 Persen Dapur Belum Bersertifikat

Fakta bahwa hanya 34 dari 8.583 SPPG yang punya Sertifikat Laik Higiene dan Sanitasi (SLHS) memperlihatkan program diluncurkan tanpa kesiapan penuh. Ini celah besar yang bisa memicu wabah penyakit bawaan makanan.

Risiko Politik dan Kepercayaan Publik

Program MBG adalah proyek andalan pemerintah untuk menekan angka stunting. Kasus keracunan massal bisa menggerus kepercayaan publik jika respon pemerintah lambat atau terkesan menutup-nutupi.

Potensi Pungli dan Mafia Dapur

KSP sudah menyinggung perekrutan mitra dapur yang akan dibuka lebih transparan. Ini mengindikasikan ada dugaan pungutan liar atau permainan vendor, yang ujung-ujungnya bisa berdampak pada kualitas makanan anak sekolah.

Jalan Keluar: Audit Total dan Edukasi

Solusi tidak cukup dengan investigasi formal. Perlu audit menyeluruh dapur MBG, pelatihan tenaga masak, dan sertifikasi cepat, plus pengawasan melibatkan masyarakat dan orang tua siswa. (*)

Editor : Amin Fauzie
#Program Makan Bergizi #Mbg #keracunan #dapur SPPG #kritik