RADARTUBAN – Siapa pengendali Gudang Garam? Jawabannya tetap satu: Keluarga Wonowidjojo.
Lewat PT Suryaduta Investama, mereka menguasai 69,29 persen saham PT Gudang Garam Tbk (GGRM) – produsen rokok legendaris asal Kediri.
Kini, ketika harga saham GGRM melonjak gila-gilaan 73,52 persen dalam sebulan, posisi mereka semakin kokoh sebagai raja industri rokok tanah air.
Gudang Garam memang bukan sekadar perusahaan. Dikutip dari IDXChannel, Gudang Garam adalah ikon bisnis kretek Indonesia, berdiri sejak 1958 dari industri rumahan yang dirintis Surya Wonowidjojo.
Dari SKL (kretek klobot) hingga SKT (kretek tangan), bisnis ini berkembang jadi raksasa pabrik dengan kapasitas produksi jutaan batang per hari.
Baca Juga: Saham Rokok Kompak Melejit Naik Akibat Menteri Keuangan Baru Purbaya Yudhi Sadewa.
Siapa di Balik GGRM?
Data Bursa Efek Indonesia per 31 Agustus 2025 mencatat:
- PT Suryaduta Investama – 1,33 miliar saham (69,29 persen)
- PT Suryamitra Kusuma – 120 juta saham (6,26 persen)
- Publik (non-warkat) – 330 juta saham (17,16 persen)
Di balik Suryaduta Investama, berdiri Susilo Wonowidjojo, putra sang pendiri, yang memegang 19,85 persen saham sekaligus menjabat Presiden Direktur GGRM.
Nama Susilo, Juni Setiawati Wonowidjojo, Sigid Sumargo Wonowidjojo, dan Sumarto Wonowidjojo tercatat sebagai ultimate beneficial owner perseroan.
Harga Saham GGRM Meledak
Pada perdagangan 23 September 2025, saham GGRM dibuka di Rp 13.900 per lembar, naik 40,64 persen hanya dalam lima hari terakhir.
Lonjakan ini tak lepas dari sentimen positif pasar soal potensi penurunan tarif cukai rokok.
Pada awal perdagangan Rabu (24/9), saham GGRM masih ngegas dan sempat melonjak ke harga Rp 15.200.
Bagi investor, isu ini bak “pesta pora”. Turunnya cukai bisa berarti margin laba lebih tebal dan penjualan domestik semakin menggila.
Apalagi rokok tetap jadi bisnis utama GGRM, meski perusahaan punya diversifikasi ke transportasi, konstruksi, hingga jalan tol.
Prospek Bisnis Rokok Masih Menggoda
Meski pemerintah terus mendorong program pengendalian tembakau, permintaan rokok di Indonesia tetap kuat.
Menurut analis pasar, setiap kali ada sinyal cukai melandai, investor buru-buru masuk karena tahu pasar domestik Indonesia adalah surga konsumen rokok – salah satu terbesar di dunia.
“Dengan harga saham yang melonjak tajam, prospek Gudang Garam makin menarik. Investor melihat ruang pertumbuhan penjualan dalam negeri masih terbuka lebar,” ujar seorang analis pasar modal.
IPO Legendaris, Kini Jadi Mesin Uang
Gudang Garam pertama kali melantai di bursa pada 27 Agustus 1990, melepas 57,80 juta saham dengan harga Rp 10.250 per lembar, menghimpun dana Rp 592 miliar.
Kini, dengan kapitalisasi pasar yang terus mengembang, GGRM tetap menjadi salah satu emiten favorit investor. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni