Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Indonesia Tetap Raih Rating BBB+ dari JCR Meski Ekonomi Global Guncang, Investor Masih Lihat RI Atraktif dan Stabil

Tulus Widodo • Jumat, 26 September 2025 | 00:10 WIB
Ekonomi RI tetap dipercaya JCR. Rating BBB+ stabil, meski ekspor tertekan.
Ekonomi RI tetap dipercaya JCR. Rating BBB+ stabil, meski ekspor tertekan.

RADARTUBAN – Perang dagang makin brutal, tarif resiprokal Amerika Serikat bikin pusing, ekonomi global ngos-ngosan.

Tapi di mata lembaga rating Jepang, dompet Indonesia masih kelihatan tebal.

Lembaga Pemeringkat Japan Credit Rating Agency, Ltd. (JCR) pada 22 September 2025 kembali memberi stempel BBB+ dengan outlook stabil untuk utang pemerintah RI.

Itu artinya, Indonesia masih bertahan di kelas investment grade—zona nyaman yang jadi magnet buat investor asing.

JCR menilai fundamental ekonomi Indonesia masih kokoh. Cadangan devisa akhir Agustus tembus USD 150,7 miliar alias cukup buat bayar 6,3 bulan impor.

Utang publik juga masih jinak, di bawah 40 persen PDB. Walau penerimaan negara dinilai belum nendang, disiplin fiskal bikin RI tetap dipercaya.

“Keputusan ini bukti kepercayaan internasional terhadap stabilitas ekonomi kita. Ke depan, BI akan terus sinergi dengan kebijakan fiskal pemerintah, menjaga stabilitas sambil tetap dorong pertumbuhan,” tegas Gubernur BI Perry Warjiyo, dikutip dari laman resmi BI.

Ekonomi 5 Persen: Kenceng tapi Bisa Nyungsep

JCR memperkirakan ekonomi Indonesia tetap di kisaran 5 persen dalam jangka menengah.

Tapi khusus 2025, laju bisa agak keteteran di bawah 5 persen gara-gara ekspor diganjal tarif timbal balik AS.

Untungnya, mesin domestik—konsumsi swasta, belanja pemerintah pasca-pemilu, plus investasi infrastruktur—masih jadi penopang utama.

Defisit fiskal dijaga tetap kinclong, sekitar 2,3–2,5 persen PDB. Rasio utang aman. Dengan “buku kas” yang rapi, RI dinilai masih cukup atraktif buat pasar global.

Catatan Kritis: Neraca Dagang Bisa Bikin Pusing

Meski rating dipertahankan, JCR memberi catatan merah: defisit transaksi berjalan bakal merangkak naik 2025.

Penyebabnya jelas: permintaan global yang melemah. Namun, tren positif investasi langsung (FDI) plus cadangan devisa yang gendut bikin RI tetap punya bantalan tebal.

Kuncinya, kata JCR, ada di politik yang stabil dan konsistensi reformasi. Kalau dua hal ini mandek, rating bisa rawan goyah meski angka makro kelihatan cantik.

Baca Juga: Kesepakatan Antara TikTok dan AS Segera Diteken, Mayoritas Saham Akan Dikuasai Investor Amerika

Bukan Kali Pertama

Ini bukan debut. Maret 2024 lalu, JCR juga mempertahankan BBB+ dengan outlook stabil.

Rating itu ada dua tingkat di atas batas bawah investment grade. Masih aman, tapi jangan sampai lengah.

Dengan predikat ini, RI ibarat siswa ranking bagus di kelas—cukup bikin orang tua (investor asing) bangga, tapi tetap harus rajin belajar biar tidak degradasi.

So, meski dunia lagi gonjang-ganjing, Jepang lewat JCR masih percaya kalau dompet Indonesia tebal, disiplin keuangan lumayan, dan daya tarik investasi tetap oke.

Tapi PR besar menanti: jangan cuma jago makro di atas kertas, tapi juga mesti konsisten di reformasi nyata. Kalau nggak, rating bisa gampang anjlok. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#investor #jcr #ekonomi indonesia #Indonesia