RADARTUBAN – Maluku Utara kembali mencetak rekor. Provinsi yang kini dipimpin Gubernur Sherly Tjoanda itu masih bertengger di posisi teratas sebagai daerah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi se-Indonesia pada triwulan II 2025.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan Malut mencapai 32,09 persen, meski melambat dibanding triwulan sebelumnya (34,41 persen). Angka ini tetap jauh meninggalkan provinsi lain.
Fenomena Malut menunjukkan bahwa ledakan aktivitas industri berbasis tambang, terutama nikel, masih menjadi motor utama perekonomian di kawasan timur Indonesia.
“Malut berada dalam orbit pertumbuhan yang ekstrem, tapi sekaligus rentan, karena terlalu tergantung pada sektor tambang,” ujar salah satu pengamat ekonomi regional.
Sulawesi-Maluku Mendominasi
Data GoodStats.id yang bersumber dari BPS memperlihatkan, empat provinsi di kawasan Sulawesi-Maluku menembus daftar 10 besar.
Selain Malut (32,09 persen), ada Sulawesi Tengah (7,95 persen), Sulawesi Tenggara (5,89 persen), dan Sulawesi Utara (5,64 persen).
Mereka membuktikan diri sebagai episentrum baru pertumbuhan ekonomi Indonesia di luar Jawa.
Jatim Terlempar dari 10 Besar
Bandingkan dengan Jawa, yang selama ini dianggap pusat ekonomi nasional. Provinsi-provinsi di Pulau Jawa justru hanya nangkring di papan tengah.
Jawa Timur yang dipimpin Gubernur Khofifah Indar Parawansa, misalnya, hanya mencatat pertumbuhan 5,23 persen dan terlempar dari 10 besar.
Provinsi yang beribukota Surabaya itu hanya menempati peringkat 15.
Jateng (5,28 persen), Jabar (5,23 persen), dan DKI Jakarta (5,18 persen) pun tak mampu menembus barisan elite.
Papua Terjerembap
Kontras dengan Sulawesi-Maluku, Papua justru makin tenggelam. Dari enam provinsi di wilayah Papua, seluruhnya masuk 10 besar terbawah.
Bahkan Papua Tengah mencatat kontraksi paling parah, minus 9,83 persen, disusul Papua Barat (-0,23 persen).
Satu provinsi lagi yang mencatat pertumbuhan minus yakni Nusa Tenggara Barat (-0,82 persen).
Kondisi ini memperlihatkan ketimpangan pembangunan yang kian menganga. Saat satu wilayah melesat karena dorongan ekstraktif, wilayah lain terseok akibat ketergantungan pada sektor tambang yang sedang merosot.
Baca Juga: Kepada Prabowo, Presiden Peru Pamer Pertumbuhan Ekonomi Negaranya Rerata 4,4 Persen Tiap Tahun
Bali dan Kepri Masih Stabil
Selain Sulawesi-Maluku, Bali (5,95 persen) dan Kepulauan Riau (7,14 persen) juga masih tampil kuat berkat pariwisata dan industri pengolahan.
Kedua daerah ini membuktikan bahwa diversifikasi ekonomi bisa menjadi penopang yang relatif stabil dibandingkan hanya bergantung pada satu komoditas.
Pertumbuhan Tinggi Bukan Berarti Pembangunan Merata
Meski ada daerah yang melonjak, para ekonom mengingatkan agar euforia angka pertumbuhan tidak menutup mata terhadap kualitasnya.
Pertumbuhan berbasis tambang seperti di Malut rawan menciptakan ketimpangan, degradasi lingkungan, serta tidak otomatis menyejahterakan masyarakat lokal.
“Pertumbuhan tinggi bukan berarti pembangunan merata. Tantangan terbesar adalah bagaimana pertumbuhan di atas kertas benar-benar terasa di meja makan rakyat,” kata seorang akademisi. (*)