RADARTUBAN - Industri kreatif Indonesia tengah menghadapi tantangan besar di era digital.
Tantangan itu mencakup perlindungan hak cipta hingga dampak pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (AI).
Di tengah dinamika tersebut, pengalaman panjang seorang maestro musik menunjukkan pentingnya seni yang berpijak pada kejujuran dan kekuatan hati.
Dalam The Friday Podcast yang tayang di YouTube Makna Talks, Yovie Widianto, musisi ternama Indonesia, berbagi pandangan tentang perjalanan kariernya, upaya untuk mendorong ekosistem kreatif yang lebih sehat, transparan, dan berkelanjutan, serta peran barunya sebagai staf khusus presiden bidang ekonomi kreatif.
Empat dekade lebih berkarya membuatnya memahami rahasia kelanggengan sebuah grup musik.
Menurutnya, kekuatan itu terletak pada fondasi organisasi yang jelas dan transparan.
Sejak awal pembentukan, pembagian porsi hingga keterbukaan kontrak menjadi kunci utama agar grup tetap solid.
Konsistensi tersebut diperkuat dengan filosofi berkarya yang berlandaskan ketulusan dan kejujuran hati.
Inspirasi menciptakan lagu cinta berawal dari dukungan seorang ibu. Dari pengalaman itu lahir keyakinan bahwa kekuatan hati adalah pembeda utama antara manusia dan mesin.
Ego untuk sekadar memamerkan keterampilan harus disingkirkan, sebab karya sejati lahir dari ketulusan dan mampu bertahan lintas generasi.
“Kekuatan hati itu adalah sesuatu yang membedakan kita dengan mesin,” tegas Yovie, menekankan pentingnya menjaga sentuhan autentik di era digital.
Dalam perannya di pemerintahan, ia menggunakan pengalaman panjang di sektor kreatif untuk memberi rekomendasi kepada Presiden.
Fokus utamanya adalah menjaga keseimbangan antara idealisme seni dan kemajuan teknologi.
Teknologi, termasuk AI, memang tidak bisa dihindari. Namun, manusia sejati tetap harus menjadi pusat penciptaan. Bagi Yovie, teknologi seharusnya menjadi alat pendukung, bukan pengganti emosi.
Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, khususnya kecerdasan buatan (AI), kemajuan tidak bisa dihindari.
Namun, teknologi sebaiknya dipandang sebagai alat untuk memperluas ruang kreativitas, bukan menggantikan peran manusia.
Meski AI mampu bekerja presisi, kekuatan hati dan rasa tetap tak tergantikan.
Karena itu, perlindungan kekayaan intelektual perlu diperkuat dengan regulasi agar karya orisinal tidak tergerus oleh konten generatif.
Persoalan hak cipta dan royalti juga di soroti. Royalti, menurut Yovie, berbeda dari honorarium.
Sistem pelaporan oleh Lembaga Manajemen Kolektif (LMK) harus dijalankan dengan transparan.
Keadilan ini bagi pencipta lagu penting untuk menjamin kesejahteraan mereka dan memperkuat ekonomi kreatif.
Selain itu, kolaborasi yang baik antara penyanyi dan pencipta lagu juga perlu terus dibangun untuk menciptakan iklim industri yang saling mendukung.
Ambisi menembus pasar global juga dinilai tidak pernah terlambat. Di era digital, kesempatan terbuka bagi karya dari mana saja, termasuk daerah terpencil.
Selama kualitas terjaga, sebuah karya bisa dikenal luas kapan saja.
Harapannya, kreativitas lokal Indonesia semakin dihargai dan memiliki nilai tinggi di mata dunia.
“Banyak cahaya di Indonesia, harapannya cahaya itu bisa mendunia,” ucap sang musisi.
Untuk mewujudkannya, dibutuhkan kolaborasi semua pihak, termasuk dukungan pendanaan dan peran pengusaha dalam berinvestasi pada budaya nasional.
Dengan langkah itu, Indonesia diharapkan mampu menjadi negara adidaya dalam budaya dan ekonomi kreatif. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni