Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

CBRE Nekat Bakar Duit Rp 1,6 Triliun Demi Kapal Offshore: Modal Tipis, Siapa Restui?

Tulus Widodo • Kamis, 2 Oktober 2025 | 16:49 WIB
CBRE menanti persetujuan RUPSLB untuk akuisisi kapal offshore “Hai Long 106”
CBRE menanti persetujuan RUPSLB untuk akuisisi kapal offshore “Hai Long 106”

RADARTUBAN - PT Cakra Buana Resources Energi Tbk (CBRE) benar-benar sedang berjudi besar.

Perusahaan pelayaran energi ini mengagendakan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada Oktober 2025 untuk meminta restu atas rencana akuisisi kapal pipe-laying & lifting vessel “Hai Long 106” seharga US$ 100 juta (sekitar Rp 1,6 triliun).

Langkah ini bukan sekadar formalitas, tapi pertaruhan kredibilitas, cash flow, dan arah bisnis CBRE ke depan.

Manajemen mengaku tanpa persetujuan pemegang saham, transaksi tak bisa diproses: pengalihan aset, penguatan struktur bisnis, hingga pengoperasian kapal bakal terhenti.

Sumber internal menegaskan bila RUPSLB molor lagi, CBRE bisa kehilangan momentum proyek-proyek offshore 2026 yang sudah diincar sejak awal tahun.

"Jika agenda RUPSLB ini kembali tertunda, risiko terjadinya opportunity lost akan sangat besar dan dapat berdampak pada pencapaian kinerja bottom line perseroan sepanjang 2026," kata Head of Online Trading Sucor Sekuritas, Daniel Wiguna dilansir dari investor.id

Modal Pas-pasan, Target Setinggi Langit

Laporan keuangan terakhir mengungkap fakta yang bikin kening berkerut: ekuitas CBRE per Agustus 2025 hanya sekitar Rp 118,02 miliar.

Bandingkan dengan harga kapal Rp 1,6 triliun. Artinya, nilai akuisisi ini hampir 14 kali lipat modal sendiri.

CBRE disebut akan memanfaatkan kombinasi dana internal dan fasilitas eksternal—utang bank atau pembiayaan pihak ketiga—untuk menutup gap pembiayaan.

Jika deal ini jalan, rasio utang bakal melesat, belanja modal (capex) membengkak, dan beban bunga menumpuk.

Kartu Truf Ada di Tangan Omudas

CBRE kini dikendalikan oleh PT Omudas Investment Holdco yang menguasai sekitar 61,13 persen saham.

Dengan porsi itu, Omudas adalah kingmaker sejati—keputusan RUPSLB ada di tangan mereka.

Di balik Omudas, Suganto Gunawan tercatat sebagai pemilik manfaat akhir (ultimate beneficial owner).

Nama ini tak banyak terekspos publik, tetapi dalam dokumen resmi CBRE, dia adalah figur kunci yang akan menentukan apakah aksi “nekat” ini diteruskan atau dibatalkan.

Baca Juga: Samsung Dikabarkan Bakal Akusisi Industri RAN Milik Nokia, Ingin Kolaborasi?

Dua Agenda Besar yang Menanti 

CBRE sudah mengumumkan rights issue 48 miliar saham. Jika RUPSLB menyetujui, dana hasil HMETD ini akan jadi amunisi utama membayar kapal plus pelunasan utang.

Begitu pemegang saham setuju, kapal “Hai Long 106” bisa langsung dipindah ke neraca CBRE, dioperasikan, dan dijadikan sumber pendapatan berulang dari proyek infrastruktur migas dan energi lepas pantai.

Jika tidak, ekspansi offshore CBRE kembali mentok di kertas rencana.

Taruhan Besar: Peluang dan Jerat Risiko

Peluang: bila sukses, CBRE bakal melesat jadi pemain baru sektor offshore energy services, bukan lagi sekadar perusahaan pelayaran biasa.

Risiko: borrow berlebihan bisa memukul rasio utang terhadap ekuitas, membebani arus kas, apalagi kalau backlog proyek tak stabil atau kapal belum langsung produktif.

Publik pasar modal kini menyorot CBRE. Investor gathering 25 September lalu jadi ajang manajemen memohon kepastian pelaksanaan RUPSLB agar rencana strategis tak berantakan.

Oktober nanti, semuanya akan terjawab: apakah pemegang saham memberi restu atau menahan diri. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#kapal Offshore #akusisi #CBRE #rupslb