RADARTUBAN – Pasar saham sedang menggelar drama tiga babak untuk Grup Merdeka.
Di satu sisi, PT Merdeka Gold Resources Tbk (kode: EMAS) baru saja mendarat di bursa dengan gegap gempita, harga sahamnya langsung melesat.
Di sisi lain, sang induk PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) justru megap-megap dihantam aksi jual.
Sementara anak usaha tambang nikel PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) diam-diam membentuk tren akumulasi dan reversal.
Data BEI menunjukkan MDKA terperosok 9,65 persen dalam sepekan ke Rp 2.060 per lembar per Rabu (1/10).
Sebaliknya, EMAS terbang 38,89 persen sejak IPO 23 September, parkir di Rp 4.000.
Bahkan, pada perdagangan Sesi I Kamis (2/10), EMAS sempat menyentuh harga tertinggi Rp 4.950.
MBMA pun menyalip dengan kenaikan 30,21 persen ke Rp 625 dalam sepekan. Tiga emiten, satu grup, nasibnya berlawanan arah.
Tekanan Seller vs Akumulasi Investor
Pengamat pasar modal Michael Yeoh mengibaratkan MDKA sedang banjir distribusi.
“Terlihat pola bearish double tops dengan target koreksi 2.100–2.000,” ujarnya dikutip Radar Tuban dari IDXChannel. Broker summary juga menegaskan seller besar masih menguasai.
Sebaliknya, MBMA justru menunjukkan tanda-tanda bullish reversal. “Ada pola cup and handle, dengan support 590, resistance 700, target 900,” sebut Michael. Artinya, akumulasi besar mulai terjadi.
Fundamental MDKA Masih Kokoh, Tapi Laba Tertekan
Ciptadana Sekuritas dalam riset 30 September 2025 mencatat EBITDA MDKA naik 17,5 persen yoy menjadi USD176,2 juta pada paruh pertama 2025, didorong penjualan emas dan nikel meski pendapatan turun 21,9 persen karena segmen nikel melemah.
Margin juga menguat – GPM naik 430 bps ke 12,4 persen, OPM naik 350 bps ke 9,2 persen.
Namun beban bunga dan pajak tetap menggerus laba. Rugi bersih melebar jadi USD 15,8 juta dari USD 12,5 juta tahun lalu.
Produksi emas naik 15,3 persen ke 1.688 kg, tapi tembaga anjlok 35,3 persen seiring habisnya umur tambang Wetar. Proyek emas Pani 67 persen selesai, target produksi awal 2026.
Ciptadana tetap buy MDKA dengan target baru Rp 3.850 (potensi upside 75 persen). Risiko: keterlambatan proyek, harga komoditas fluktuatif. JP Morgan lebih konservatif, tetap neutral dengan target Rp 2.500.
IPO EMAS: “Anak Baru” yang Langsung Ngacir
Trimegah Sekuritas pada riset 23 September 2025 memberi rekomendasi initiate coverage EMAS dengan target Rp 5.800.
Proyek emas Pani punya cadangan terbukti 1,9 juta ons dari total 7 juta ons, umur tambang sampai 2041. Biaya produksi superrendah (rasio pengupasan cuma 0,6x vs industri 5x).
Produksi komersial mulai kuartal I-2026, target 79 ribu ons di awal, melonjak hingga 500 ribu ons 2033 seiring ekspansi pabrik carbon in leach.
Pendapatan diperkirakan naik dari USD 293 juta (2026) ke USD 1,27 miliar (2029), EBITDA CAGR 61 persen, laba CAGR 42 persen. Valuasi jangka panjang jadi lebih menarik – P/E 11 kali 2029 vs rata-rata produsen emas global.
MBMA: Smelter Turun, Tambang Nikel Melesat
MBMA justru mengungkap penurunan pendapatan semester I-2025 sebesar 32 persen menjadi USD 628 juta akibat pemeliharaan smelter terjadwal.
Produksi Nickel Pig Iron turun 23 persen ke 33.045 ton, HGNM juga ikut terkoreksi.
Namun tambang nikel PT Sulawesi Cahaya Mineral (SCM) mencatat lonjakan produksi 6,9 juta wmt (+78 persen yoy) terdiri dari limonit naik 45 persen dan saprolit 189 persen.
Ini buah investasi 12–18 bulan terakhir untuk penguatan kapasitas dan infrastruktur.
Presiden Direktur MBMA, Teddy Oetomo, menyebut pemeliharaan ini landasan efisiensi biaya dan keselamatan jangka panjang.
Mana yang Layak Diborong Investor?
MDKA: Fundamental masih solid, proyek Pani jadi katalis 2026. Tapi tekanan seller besar dan risiko harga komoditas patut diwaspadai.
EMAS: IPO cemerlang, biaya produksi rendah, prospek produksi emas jangka panjang. Namun valuasi awal premium, cocok buat investor sabar.
MBMA: Sedang transisi, tambang nikel moncer tapi pendapatan turun sementara. Akumulasi investor bisa jadi sinyal rebound.
Investor agresif bisa melirik EMAS atau MBMA untuk momentum jangka pendek, sedangkan MDKA menarik untuk horizon menengah-panjang setelah tekanan distribusi mereda. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni