RADARTUBAN – Bursa saham sedang “berasap” panas! Dalam waktu kurang dari sebulan, saham emiten rokok PT Indonesian Tobacco Tbk (ITIC) melonjak gila-gilaan hingga 118 persen ke level Rp 545 sebelum akhirnya disuspensi BEI pada 26 September 2025. Lonjakan ini bikin banyak investor tercengang. Apa yang terjadi?
Direktur Utama ITIC, Djonny Saksono, lewat keterbukaan informasi BEI mengaku tidak sedang menyiapkan aksi korporasi apa pun.
Tapi Djonny tak menutup mata bahwa ada “sentimen positif” yang menyelimuti saham perseroan sejak pergantian Menteri Keuangan.
“Sentimen positif terhadap saham perseroan terjadi sejak adanya pergantian Menteri Keuangan Republik Indonesia,” kata Djonny dalam keterbukaan informasi BEI, dikutip Radar Tuban dari CNBC Indonesia.
Efek Purbaya: Cukai Tak Naik, Industri Bernapas
Presiden Prabowo Subianto resmi melantik Purbaya Yudhi Sadewa menggantikan Sri Mulyani pada 8 September 2025.
Sejak hari pertama, Purbaya sudah bikin heboh: ia memutuskan tidak menaikkan cukai rokok untuk tahun depan.
“Karena saya nggak mau industri kita mati. Terus kita biarkan yang ilegal hidup,” ujar Purbaya di Istana Negara, Rabu (1/10).
Keputusan ini jadi oase setelah bertahun-tahun industri rokok digencet kenaikan cukai.
Di sisi lain, Purbaya juga terang-terangan menyasar peredaran rokok ilegal yang makin marak akibat harga resmi yang melambung.
Bahkan, menurut pengakuan pelaku industri, Purbaya sempat membuka peluang cukai diturunkan asalkan tidak ada PHK lagi di sektor ini.
“Nggak naik udah syukur. Harusnya kan mereka minta turun. Untungnya nggak minta turun sih. Mereka bilang sudah cukup nggak naik,” kata Purbaya.
Satu Menteri, Satu Sentimen, Satu Reli
Data BEI mencatat, sejak pelantikan Purbaya, bukan hanya ITIC yang menguat. Saham-saham raksasa rokok lain ikut “pesta”:
Gudang Garam (GGRM) naik 35,35 persen hingga 1 Oktober 2025
Wismilak Inti Makmur (WIIM) naik 36,76 persen
HM Sampoerna (HMSP) naik 28,57 persen
Reli ini oleh investor dan analis dijuluki “Purbaya Effect” — seolah setiap pernyataan Menkeu baru itu jadi bensin tambahan bagi harga saham sektor rokok.
Berisiko Sekaligus Jadi Peluang
Keputusan Purbaya ini jelas berisiko sekaligus jadi peluang. Dengan tidak menaikkan cukai, industri rokok memang bernapas lega, pekerja terlindungi, dan pasar ilegal berpotensi teredam.
Tapi di sisi lain, tekanan kesehatan publik dan target penerimaan negara jadi PR besar yang harus dijawab Menkeu baru ini.
Kalau Purbaya benar-benar sukses mengendalikan rokok ilegal sambil menjaga penerimaan, sektor ini bisa kembali jadi sapi perah negara.
Kalau gagal, “Purbaya Effect” hanya akan jadi euforia jangka pendek di bursa.
Yang jelas, investor sudah keburu mengantisipasi: saham rokok bukan lagi saham berat, tapi jadi saham panas. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni