Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Purbaya Effect Bikin Saham Rokok Menggila: ITIC Melejit 118 Persen Dalam Sebulan!

Tulus Widodo • Jumat, 3 Oktober 2025 | 18:57 WIB
Pergantian Menkeu jadi pemicu “Purbaya Effect”. ITIC melonjak 118?n saham rokok lain ikut reli di Bursa.
Pergantian Menkeu jadi pemicu “Purbaya Effect”. ITIC melonjak 118?n saham rokok lain ikut reli di Bursa.

RADARTUBAN – Bursa saham sedang “berasap” panas! Dalam waktu kurang dari sebulan, saham emiten rokok PT Indonesian Tobacco Tbk (ITIC) melonjak gila-gilaan hingga 118 persen ke level Rp 545 sebelum akhirnya disuspensi BEI pada 26 September 2025. Lonjakan ini bikin banyak investor tercengang. Apa yang terjadi?

Direktur Utama ITIC, Djonny Saksono, lewat keterbukaan informasi BEI mengaku tidak sedang menyiapkan aksi korporasi apa pun.

Tapi Djonny tak menutup mata bahwa ada “sentimen positif” yang menyelimuti saham perseroan sejak pergantian Menteri Keuangan.

“Sentimen positif terhadap saham perseroan terjadi sejak adanya pergantian Menteri Keuangan Republik Indonesia,” kata Djonny dalam keterbukaan informasi BEI, dikutip Radar Tuban dari CNBC Indonesia.

Baca Juga: Menkeu Purbaya Batal Naikkan Cukai Rokok 2026, Saham Emiten Rokok Malah Ambruk Berjamaah! Apa yang Sebenarnya Terjadi?

Efek Purbaya: Cukai Tak Naik, Industri Bernapas

Presiden Prabowo Subianto resmi melantik Purbaya Yudhi Sadewa menggantikan Sri Mulyani pada 8 September 2025.

Sejak hari pertama, Purbaya sudah bikin heboh: ia memutuskan tidak menaikkan cukai rokok untuk tahun depan. 

“Karena saya nggak mau industri kita mati. Terus kita biarkan yang ilegal hidup,” ujar Purbaya di Istana Negara, Rabu (1/10).

Keputusan ini jadi oase setelah bertahun-tahun industri rokok digencet kenaikan cukai.

Di sisi lain, Purbaya juga terang-terangan menyasar peredaran rokok ilegal yang makin marak akibat harga resmi yang melambung.

Bahkan, menurut pengakuan pelaku industri, Purbaya sempat membuka peluang cukai diturunkan asalkan tidak ada PHK lagi di sektor ini.

“Nggak naik udah syukur. Harusnya kan mereka minta turun. Untungnya nggak minta turun sih. Mereka bilang sudah cukup nggak naik,” kata Purbaya.

Satu Menteri, Satu Sentimen, Satu Reli

Data BEI mencatat, sejak pelantikan Purbaya, bukan hanya ITIC yang menguat. Saham-saham raksasa rokok lain ikut “pesta”:

Gudang Garam (GGRM) naik 35,35 persen hingga 1 Oktober 2025

Wismilak Inti Makmur (WIIM) naik 36,76 persen

HM Sampoerna (HMSP) naik 28,57 persen

Reli ini oleh investor dan analis dijuluki “Purbaya Effect” — seolah setiap pernyataan Menkeu baru itu jadi bensin tambahan bagi harga saham sektor rokok.

Berisiko Sekaligus Jadi Peluang

Keputusan Purbaya ini jelas berisiko sekaligus jadi peluang. Dengan tidak menaikkan cukai, industri rokok memang bernapas lega, pekerja terlindungi, dan pasar ilegal berpotensi teredam.

Tapi di sisi lain, tekanan kesehatan publik dan target penerimaan negara jadi PR besar yang harus dijawab Menkeu baru ini.

Kalau Purbaya benar-benar sukses mengendalikan rokok ilegal sambil menjaga penerimaan, sektor ini bisa kembali jadi sapi perah negara.

Kalau gagal, “Purbaya Effect” hanya akan jadi euforia jangka pendek di bursa.

Yang jelas, investor sudah keburu mengantisipasi: saham rokok bukan lagi saham berat, tapi jadi saham panas. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#Purbaya Effect #bursa saham #rokok ilegal #menteri keuangan #Purbaya Yudhi Sadewa #bei #cukai rokok #ITIC #rookie #presiden prabowo subianto