Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Asing Kuras Bursa Rp 1,4 T dalam Sehari, 6 Saham Blue Chip Dihajar Habis! Siapa yang Masih Bertahan?

Tulus Widodo • Jumat, 3 Oktober 2025 | 14:14 WIB
Saham BBCA akhirnya menghijau tipis perdagangan Jumat (3/10). Foto adalah ilustrasi.
Saham BBCA akhirnya menghijau tipis perdagangan Jumat (3/10). Foto adalah ilustrasi.

RADARTUBAN – Pasar modal Indonesia kembali diguncang aksi jual asing. Investor asing Kamis (2/10), semakin agresif melepas portofolionya di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Tak tanggung-tanggung, enam saham papan atas jadi sasaran empuk: BBRI, EMTK, BBCA, ANTM, MBMA, dan BUMI.

Namun uniknya, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tetap perkasa naik tipis di tengah gempuran tersebut.

Data BEI yang dikutip Radar Tuban dari investor.id menunjukkan, net sell asing di seluruh pasar membengkak hingga Rp 1,42 triliun dalam sehari.

Dengan tambahan itu, total net sell asing sepanjang tahun berjalan sudah menyentuh Rp 56,9 triliun.

Angka ini menegaskan tren pelarian dana asing yang makin nyata.

BBRI Paling Banyak Dilepas Asing

Net sell terbesar menghantam saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dengan nilai mencolok Rp 914,5 miliar.

Setelah BBRI, giliran PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK) disapu bersih Rp 190,1 miliar, dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) Rp 184,69 miliar.

Tiga emiten besar sektor perbankan dan teknologi itu jelas jadi indikator sentimen asing terhadap pasar.

Asing juga membuang saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) Rp 149,3 miliar, PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) Rp 142,2 miliar, serta PT Bumi Resources Tbk (BUMI) Rp 140,59 miliar.

Menariknya, di tengah derasnya jualan asing, justru ada emiten yang diborong. PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) tercatat net buy tertinggi Rp 108,8 miliar, diikuti PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) Rp 96,2 miliar.

IHSG Menguat 27,26 Poin

IHSG sendiri tetap menunjukkan ketangguhan. Indeks ditutup menguat 27,26 poin (0,34 persen) ke level 8.071.

Sebanyak 339 saham naik, 356 saham turun, dan 261 stagnan dengan nilai transaksi jumbo Rp 26,85 triliun.

Sektor barang konsumen primer memimpin reli dengan kenaikan 2,2 persen. Disusul sektor teknologi 1,1 persen, properti 1 persen, dan keuangan 1 persen.

Sektor energi ikut naik 0,8 persen, barang baku 0,6 persen, serta barang konsumen non-primer 0,48 persen.

Hanya empat sektor yang melemah: transportasi -0,3 persen, kesehatan -0,2 persen, infrastruktur -0,1 persen, dan perindustrian -0,07 persen.

Top Cuan Didominasi Saham Lapis Kedua

Di sisi lain, perburuan cuan juga berlangsung sengit. Lima saham mencetak kenaikan fantastis: PT SLJ Global Tbk (SULI) melesat 34,5 persen, PT Asri Karya Lestari Tbk (ASLI) 34,4 persen, PT Distribusi Voucher Nusantara Tbk (DIVA) 34,3 persen, PT Trimuda Nuansa Citra Tbk (TNCA) 34,1 persen, dan PT Esta Multi Usaha Tbk (ESTA) 28,5 persen.

Sebaliknya, deretan saham lain terjun bebas: PT Grahaprima Suksesmandiri Tbk (GTRA) anjlok 14,9 persen, PT Damai Sejahtera Abadi Tbk (UFOE) minus 14,6 persen, PT Trisula Internasional Tbk (TRIS) -14,4 persen, PT Topindo Solusi Komunika Tbk (TOSK) -14,1 persen, dan PT Artavest Tbk (ARTA) -13,1 persen.

Investor Global Belum Percaya Prospek Pasar Domestik

Lonjakan net sell asing yang semakin besar menunjukkan investor global belum sepenuhnya percaya pada prospek pasar domestik jangka pendek, meski IHSG masih mampu bertahan positif.

Ada tanda sektor-sektor defensif mulai jadi incaran investor lokal. Namun tekanan di saham-saham perbankan besar memberi sinyal potensi koreksi lebih lanjut jika tren ini berlanjut. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#investor #aksi jual asing #indeks harga saham gabungan #bbri #BBCA #harga saham #pasar modal #ihsg #bursa efek indonesia #beo