RADARTUBAN – Pendiri BLP Beauty, Lizzie Parra atau yang akrab disapa Kak Icil, membagikan kisah inspiratif tentang perjalanan kariernya yang penuh risiko terukur (calculated risk) hingga strategi sukses mengelola tim yang didominasi Generasi Z.
Cerita ini terungkap dalam perbincangannya bersama Maudy Ayunda yang diunggah di YouTube pada 18 Juli 2025.
Elizabeth Christina Parameswari—nama asli Lizzie Parra—mengisahkan pentingnya pengalaman langsung di lapangan, keberanian mengambil keputusan besar, serta bagaimana nilai (value) dan kejelasan (clarity) menjadi kunci membangun budaya perusahaan yang kokoh.
Ia mengenang awal kariernya di tahun 2009 ketika baru lulus kuliah dan langsung menargetkan bekerja sebagai marketer di perusahaan kosmetik multinasional L’Oréal Indonesia.
Selama tiga bulan pertama, Lizzie menjalani program management trainee dengan turun langsung menjadi SPG (Sales Promotion Girl) di lapangan.
Pengalaman ini menjadi kejutan budaya (culture shock) baginya karena harus menghadapi senioritas dan berinteraksi langsung dengan konsumen.
Namun justru pengalaman tersebut membuka matanya tentang pentingnya memahami ujung tombak penjualan untuk bekal menjadi marketer andal.
Baca Juga: Dari Standar Kecantikan hingga Kesenjangan Gaji, Ini 7 Tekanan Sosial yang Sering Dihadapi Perempuan
Setelah 2,5 tahun bekerja di posisi korporat yang stabil, Lizzie berani mengambil langkah besar dengan mengundurkan diri pada 2011 untuk menekuni karier sebagai makeup artist.
Keputusan ini bukan langkah gegabah, melainkan risiko yang sudah diperhitungkan.
Ia memiliki modal berupa keterampilan, koneksi, dan portofolio yang cukup mumpuni.
Pada periode ini pula ia sukses melakukan rebranding diri menjadi “Lizipara”, nama yang unik dan membantunya lebih dikenal di industri.
BLP Beauty sendiri lahir pada 2016 setelah Lizzie melihat dua celah besar di pasar kecantikan: skeptisisme masyarakat terhadap produk lokal dan standar kecantikan yang belum inklusif.
Berbekal reputasinya sebagai beauty blogger dan “lip swatcher”, ia meluncurkan BLP dengan produk lipstik sebagai pintu masuk pasar.
Dalam mengelola tim yang mayoritas Gen Z, Lizzie Parra menekankan pentingnya memahami karakter unik generasi ini.
Ia membantah stereotip Gen Z sebagai “kutu loncat” atau “terlalu sensitif” karena menurutnya mereka justru purpose-driven dan akan bekerja sepenuh hati bila nilai perusahaan selaras dengan hati nurani mereka.
Di sisi lain, Gen Z sangat vokal dan peduli pada isu kesehatan mental. Apresiasi sekecil apa pun, seperti ucapan terima kasih atau mengingat nama, sangat berarti bagi mereka.
Tantangan terbesar justru muncul ketika Gen Z menghadapi perubahan cepat atau tugas di luar KPI yang jelas.
Oleh karena itu, struktur kerja dan kejelasan KPI menjadi penting untuk menjaga performa tim.
Untuk membangun reputasi budaya kerja positif di BLP, Lizzie menetapkan value perusahaan sebagai “pagar” agar tim memiliki batasan yang jelas.
Value terbaru BLP adalah MAGIC (Empower, Agile, Growth Mindset, Integrity, Collaboration).
Ia juga menekankan pentingnya budaya belajar, di mana pemimpin harus berani mengakui jika tidak tahu dan belajar bersama tim dengan gaya kepemimpinan serius tapi santai.
Menurut Lizzie, top performer di dunia bisnis yang serba cepat bukanlah mereka yang sempurna, melainkan yang adaptif, lincah, dan berani mencoba meski berpotensi gagal.
Menutup perbincangan, Lizzie Parra membagikan pesan yang ia tujukan untuk dirinya sendiri di usia 20-an, yang juga relevan bagi generasi muda penuh rasa ingin tahu: “It’s okay kalau lo nggak tahu.”
Baginya, pengusaha harus menerima bahwa tidak semua hal bisa diketahui dan jawaban akan ditemukan seiring waktu. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni