RADAR TUBAN — Masih banyak keluarga di Indonesia yang belum bisa menikmati air bersih.
Faktanya, lebih dari 70 persen rumah tangga masih menggunakan air yang tercemar bakteri E. coli, bakteri berbahaya yang bisa menyebabkan diare parah, keracunan makanan, bahkan infeksi saluran kemih.
Masalah air bersih di Indonesia bukan lagi sekadar urusan lingkungan, ini sudah menjadi persoalan kesehatan masyarakat yang mendesak.
Ketika jutaan orang masih bergantung pada air yang tidak layak konsumsi, dampaknya bukan hanya soal penyakit, tetapi juga kualitas hidup.
Bayangkan, dari seluruh rumah tangga di Indonesia, hanya sekitar satu dari sepuluh yang benar-benar memiliki akses ke air minum yang layak dan aman.
Artinya, jutaan keluarga setiap hari masih harus menghadapi risiko kesehatan hanya karena air yang mereka gunakan tercemar.
Yang lebih memprihatinkan, di tengah ancaman air tercemar yang nyata, pemahaman masyarakat tentang bahaya tersebut masih sangat terbatas.
Melihat betapa seriusnya ancaman air tercemar terhadap kesehatan masyarakat, sejumlah akademisi dan pegiat lingkungan tak tinggal diam.
Sejak 2023, mereka menggagas program Generasi Cerdas Lingkungan (Gencerling) sebuah inisiatif yang lahir dari kepedulian terhadap minimnya pendidikan soal ketahanan air di sekolah.
Program ini hadir untuk menjembatani kekosongan kurikulum, dengan pendekatan Problem-Based Learning (PBL) yang mengajak siswa tidak hanya memahami teori, tapi juga terlibat langsung dalam mengenali risiko nyata dari air yang tidak aman.
Sejak diluncurkan, program Gencerling telah menjangkau ribuan insan pendidikan di seluruh penjuru negeri.
Hingga tahun 2025, lebih dari 669 guru dan 8.500 siswa dari Aceh hingga Papua telah terlibat langsung dalam gerakan ini.
Para guru yang telah dilatih membawa semangat perubahan ke sekolah masing-masing.
Dengan semangat ingin tahu dan rasa peduli terhadap lingkungan, mereka mendokumentasikan kondisi air di sekitar desa tempat tinggalnya.
Aktivitas ini bukan sekadar tugas sekolah, melainkgan bukti bahwa literasi air bisa menjadi gerakan nyata yang menyentuh aspek sosial dan kesehatan masyarakat.
Menurut laporan Bappenas tahun 2020, wilayah seperti Sumatera Selatan, NTB, dan Sulawesi Selatan diperkirakan akan mengalami krisis air pada tahun 2045.
Bahkan, dua pulau dengan populasi terbesar, yakni Jawa dan Bali, diproyeksikan masuk kategori langka hingga kritis.
Jika tren ini terus berlanjut, wilayah yang mengalami krisis air akan meningkat dari 6 persen pada tahun 2000 menjadi hampir 10 persen pada 2045.
Krisis air bukan hanya soal lingkungan yang rusak ini juga soal kesehatan manusia yang terancam.
Ketika air tercemar bakteri, dampaknya bisa sangat luas: memicu penyebaran penyakit menular yang tak mudah dikendalikan.
Melalui platform digital, siswa diajak untuk berbagi karya seputar isu air, mulai dari artikel, puisi, video, hingga laporan observasi lingkungan yang mereka buat sendiri.
Hingga September 2025, tercatat 525 karya telah diunggah secara daring.
Yang mengagumkan, sebagian besar datang dari daerah yang bahkan memiliki akses internet terbatas.
Puncak kegiatan Gencerling akan berlangsung pada (10/10), dan semua orang diajak untuk ikut merayakannya.
Acara ini terbuka untuk publik dan akan menampilkan 100 karya terbaik siswa dari berbagai daerah mulai dari artikel, puisi, hingga video kreatif yang bisa dinikmati secara virtual selama enam bulan penuh.
Sebab di luar sekolah, masih banyak orang yang belum menyadari betapa berbahayanya air tercemar bagi kesehatan mereka.
Pertanyaannya kini, bagaimana menjadikan pengetahuan ini sebagai gerakan bersama, agar kesadaran tumbuh bukan hanya di kepala anak-anak, tapi juga di hati keluarga, tetangga, dan komunitas di sekitarnya? (*/tia)
Editor : radar tuban digital