RADARTUBAN – Pasar saham Tanah Air sedang “galau” pada awal pekan ini. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun tipis 4,71 poin atau 0,06 persen ke level 8.113,58 pada penutupan sesi I Senin (6/10).
Indeks sempat berfluktuasi di rentang 8.104–8.176, menandakan investor masih ragu apakah tren reli akhir September akan lanjut atau malah terhenti.
Namun di balik IHSG yang loyo, saham-saham konglomerat justru berjemaah tancap gas.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) yang dikutip dari investor.id, transaksi pada sesi I mencapai 27,49 miliar saham dengan nilai fantastis Rp 17,37 triliun dan frekuensi 1,84 juta kali.
Sebanyak 259 saham menguat, 420 terkoreksi, dan 118 stagnan.
Prajogo Pangestu Cuan Besar
Yang jadi sorotan, saham-saham milik taipan Prajogo Pangestu dan kawan-kawan melonjak bak “rapat akbar” di lantai bursa.
PT Barito Pacific (BRPT) melesat 160 poin atau 4,16 persen ke harga Rp 4.010 per saham.
Saham PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) juga ikut naik 2,97 persen ke Rp 7.800.
PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) bahkan terbang 9,54 persen, sementara PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) menanjak 1,31 persen.
Tidak hanya grup Barito, emiten tambang emas grup Salim-Bakrie PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) juga menguat 3,16 persen ke Rp 980 per saham.
Saham properti milik Aguan, PT Indah Kapuk Dua Tbk (PANI) ikut terbang 650 poin atau 4,34 persen ke Rp 15.625 per saham.
Investor Ritel Mengekor Pergerakan Big Player
Fenomena ini mengindikasikan “duel” unik: IHSG loyo, tapi saham-saham konglomerat justru lari kencang.
Investor ritel ramai-ramai mengekor pergerakan big player, berharap cuan cepat.
Pada sesi II perdagangan, Senin siang pukul 13.35 WIB, IHSG sudah bangkit tipis 0,11 persen ke level 8.130.
Saham RMKO, PIPA, dan CBRE bahkan masuk daftar top gainers. Sinyal panas ini bisa menjadi tanda rotasi dana besar ke saham-saham yang dikuasai taipan.
Analis pasar menilai tren ini menunjukkan konsolidasi yang khas menjelang rilis laporan keuangan kuartal ketiga.
Saham-saham big cap konglomerat memang cenderung jadi pelarian ketika IHSG lesu karena dianggap lebih “aman” sekaligus likuid.
Namun, investor tetap diingatkan untuk waspada efek profit taking yang biasanya menghantui reli mendadak seperti ini. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni