RADARTUBAN - Insiden memilukan ambruknya bangunan Pondok Pesantren Al Khoziny, Sidoarjo sampai pada Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo.
Bangunan ponpes Al Khoziny sebelumnya ambruk pada Senin (29/9) sekitar pukul 15.30 WIB.
Insiden yang terjadi saat para santri melaksanakan sholat ashar tersebut merenggut nyawa sebanyak 58 korban meninggal dunia, dan termasuk 6 body part.
Sejak kejadian tersebut banyak masyarakat yang mempertanyakan alasan ambruknya gedung 4 lantai tersebut.
Hingga gedung ponpes yang tak memiliki Perjanjian Bangunan Gedung (PBG).
Menyoroti hal tersebut Menteri PU Dody Hanggodo, mengatakan bahwa pihak PU telah membantu jalannya proses evakuasi, dengan mengerahkan bantuan alat berat yang baru digunakan pada hari keempat.
"Nggak ada (PBG) ya? kan pondok pesantrennya masih tanggap darurat, jadi belum dicek sampai urusan detail fisiknya. Sudah dari awal (alat berat) di tanggal 29 September. Tetapi kan itu baru kemarin alat berat diizinkan. Basarnas dan Kodim nggak ngebolehin masuk karena waktu itu masih ada (korban) yang hidup," ungkap Dody.
Penggunaan alat berat sepakat tidak digunakan dari awal sebab, pada tiga hari pertama proses evakuasi masih banyak korban yang selamat di dalam runtuhan.
Sehingga penggunaan alat berat dihindari, agar tidak menyebabkan runtuhan baru bagi para korban.
Sehingga, pada hari terakhir sebelum digunakannya alat berat dilaksankan tes hening oleh para tim SAR.
Hal tersebut bertujuan untuk mengetahui apakah masih terdapat korban yang masih dapat mengeluarkan suara, untuk dibantu evakuasi.
"Jadi kemarin itu ada tes hening dulu nih untuk didengerin tuh masih ada yang bersuara, nggak teriak-teriak segala macam. Begitu nggak ada, lalu alat berat mulai kemarin siang atau sore itu baru boleh masuk," tukas Hanggodo.(*)
Editor : Yudha Satria Aditama