RADARTUBAN - Di era digital seperti sekarang, hampir semua orang sudah memakai AI dalam berbagai bentuk.
Entah itu untuk mencari ide, menyusun kalimat, atau bahkan menulis utuh dari awal sampai akhir.
Tak bisa dipungkiri, teknologi ini memang membantu. Cepat, efisien, dan kadang hasilnya cukup memuaskan.
Tapi ketika fenomena ini masuk ke ruang belajar menulis, terutama kelas kepenulisan, muncul pertanyaan yang cukup menggelitik: kok bisa, belajar menulis tapi malah dituliskan oleh AI?
Fenomena ini bukan sekadar soal teknis. Ini menyentuh ranah etika, kreativitas, dan esensi dari proses belajar itu sendiri.
Karena menulis, sejatinya, adalah seni melambat. Bukan tentang hasil instan, tapi tentang proses berpikir, merangkai kata, dan menemukan suara diri.
Pro dan Kontra yang Tak Terhindarkan
Tentu saja, penggunaan AI dalam menulis punya dua sisi. Di satu sisi, AI bisa jadi alat bantu yang luar biasa.
Dia bisa memunculkan ide, menyusun struktur, bahkan memperbaiki tata bahasa.
Banyak penulis profesional pun memanfaatkannya untuk brainstorming atau editing.
Tapi di sisi lain, ketika AI digunakan secara penuh dalam kelas menulis, di mana seharusnya peserta belajar merangkai kata sendiri, rasanya ada yang hilang.
Kelas menulis bukan sekadar tempat menghasilkan tulisan.
Dia adalah ruang untuk belajar berpikir, merasakan, dan menyampaikan gagasan dengan gaya pribadi.
Ketika peserta menyerahkan proses itu sepenuhnya pada AI, maka ruh belajar itu pun lenyap. Yang tersisa hanya hasil, tanpa proses.
Menulis Itu Perjalanan, Bukan Shortcut
Menulis bukan soal cepat-cepat selesai. Dia adalah proses yang kadang menyebalkan, kadang menyenangkan, tapi selalu penuh makna.
Ada momen buntu, ada momen eureka. Ada kalimat yang dihapus lima kali, ada paragraf yang lahir dari satu malam tanpa tidur. Semua itu bagian dari perjalanan yang membentuk penulis.
Ketika AI mengambil alih proses itu, kita kehilangan kesempatan untuk tumbuh. Bukan berarti AI harus dijauhi.
Tapi dalam konteks belajar menulis, sebaiknya ia digunakan sebagai alat bantu, bukan sebagai penulis utama.
Belajar Menulis, Bukan Belajar Dituliskan
Saya pribadi tak masalah dengan penggunaan AI. Bahkan saya percaya, teknologi ini bisa jadi teman yang baik dalam proses kreatif.
Tapi kalau niatnya ikut kelas menulis, lalu semua tugas diserahkan ke AI, rasanya memang agak aneh.
Kan belajar nulis, kok malah belajar dituliskan?
Kelas menulis seharusnya jadi ruang untuk menemukan suara sendiri, bukan suara mesin.
Karena pada akhirnya, tulisan yang paling menyentuh adalah tulisan yang lahir dari proses manusiawi yang penuh keraguan, pencarian, dan kejujuran. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama