RADARTUBAN - Musisi Baskara Putra, yang lebih dikenal dengan nama panggung Hindia, kembali menarik perhatian publik lewat pandangan jujur dan reflektifnya mengenai nasionalisme dan industri musik Indonesia.
Dalam wawancara bersama Popbela’s Club bertajuk “Hindia dan Suka Duka Menjadi WNI” pada 16 Agustus 2025, pelantun lagu Evaluasi dan Everything U Are ini mengungkap sisi lain perjuangan seniman di tanah air, antara kebanggaan dan kekecewaan.
Bangga pada Musik Indonesia, Tapi Gelisah dengan Sistem
Di awal perbincangan, Hindia dengan penuh semangat menyatakan kebanggaannya terhadap kemajuan musik Indonesia yang kini semakin diakui dunia.
“Gue bangga banget melihat perkembangan musik Indonesia beberapa tahun terakhir,” ujarnya dengan nada optimis.
Ia menyoroti keberhasilan para musisi muda yang mampu menembus panggung internasional dengan karya orisinal.
Salah satunya ketika ia dan tim tampil di National Stadium Malaysia di hadapan lebih dari 24.000 penonton, yang menjadi bukti bahwa musisi Indonesia memiliki kualitas bersaing di level global.
Namun, di balik kebanggaan itu, Hindia juga menyimpan rasa kecewa dan kegelisahan mendalam.
Menurutnya, sistem industri musik di dalam negeri masih belum berpihak kepada para pelaku seni.
Mulai dari regulasi yang tidak jelas, perlindungan hak cipta yang lemah, hingga sistem tata kelola yang membingungkan.
“Kebanggaan itu berhenti saat ngomongin sistem dan tata kelola. Banyak hal yang belum beres, padahal potensi kita luar biasa,” tuturnya.
Royalti, Hak yang Belum Dihargai Sepenuhnya
Salah satu isu utama yang disoroti Hindia adalah sistem royalti di Indonesia.
Ia menegaskan bahwa royalti bukanlah hadiah, melainkan hak ekonomi bagi pencipta lagu. “Idealnya semua rekaman punya hak untuk penciptanya,” ujarnya tegas.
Sayangnya, menurut Hindia, sistem distribusi royalti di Indonesia masih jauh dari kata transparan.
Banyak musisi, terutama yang independen, tidak tahu bagaimana royalti mereka dikumpulkan dan disalurkan.
Kurangnya sosialisasi dari Lembaga Manajemen Kolektif Nasional (LMKN) dan minimnya keterbukaan membuat para musisi merasa dirugikan.
“Masalahnya bukan dibayar atau nggak, tapi di cara dan transparansinya. Banyak yang ngerasa kayak diper-es, ya?” katanya sambil tertawa kecil, namun dengan nada serius.
Ia juga menekankan pentingnya edukasi kepada publik dan pelaku usaha, seperti kafe atau tempat hiburan, agar memahami bahwa royalti bukanlah beban, melainkan bentuk penghargaan terhadap karya seni.
Kurangnya Ruang untuk Berkarya
Selain royalti, Hindia menyoroti keterbatasan ruang publik untuk berkarya. Ia berpendapat, pemerintah seharusnya lebih banyak menyediakan gedung pertunjukan milik negara yang bisa digunakan secara gratis atau dengan biaya terjangkau.
“Cukup gedung kecil berkapasitas 500–1.000 orang, nggak harus megah. Tapi jangan cuma di Jakarta. Kota kayak Bogor, Depok, sampai Tangsel juga butuh,” jelasnya.
Menurut Hindia, keberadaan ruang publik akan mempercepat pertumbuhan musik lokal dan memberi kesempatan bagi talenta muda untuk berkembang.
Ia mencontohkan negara-negara maju yang secara aktif mendukung ekosistem seni melalui subsidi acara, regulasi pajak yang ramah, dan penyediaan ruang kreatif terbuka.
“Kalau ruang publik hidup, musiknya juga ikut tumbuh. Akan ada lebih banyak yang berani tampil dan berkarya,” katanya.
Antara Cinta dan Luka Jadi WNI
Di akhir wawancara, Hindia berbicara jujur tentang cinta dan kegelisahannya sebagai warga negara Indonesia.
Ia mengaku sangat mencintai budaya, bahasa, dan kreativitas masyarakat Indonesia yang luar biasa.
Namun, ketika ditanya apakah ia bangga menjadi warga negara Indonesia, Hindia terdiam sejenak sebelum menjawab pelan,
“Gue bangga banget jadi orang Indonesia. Tapi kalau ditanya bangga jadi warga negaranya... gue bingung jawabnya apa.”
Pernyataan itu menjadi cerminan jujur banyak generasi muda kreatif: mereka mencintai negeri ini sepenuh hati, tetapi masih kecewa dengan sistem yang belum sepenuhnya mendukung karya dan kesejahteraan seniman.
Harapan dan Pesan untuk Musisi Muda
Menutup perbincangan, Hindia memberi pesan penuh makna bagi musisi muda Indonesia.
“Jangan nunggu sistemnya sempurna dulu baru mulai. Jalan aja dulu. Tapi jangan berhenti bersuara juga,” katanya.
Ia percaya, perubahan akan datang jika banyak orang berani berbicara dan berkarya tanpa takut.
“Suatu hari nanti, semoga gue bisa bilang: gue bukan cuma bangga jadi orang Indonesia, tapi juga bangga jadi warga negaranya,” tutupnya dengan senyum tenang. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni