Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Purbaya Effect! Sentilan Menkeu Soal Saham Gorengan Bikin Saham Blue Chip Ngegas, IHSG Cetak Rekor Tertinggi

Tulus Widodo • Jumat, 10 Oktober 2025 | 04:45 WIB
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dalam konferensi pers setelah menggelar Dialog Pelaku Pasar Modal Bersama Menteri Keuangan RI di Gedung BEI, Jakarta, Kamis (09/10).
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dalam konferensi pers setelah menggelar Dialog Pelaku Pasar Modal Bersama Menteri Keuangan RI di Gedung BEI, Jakarta, Kamis (09/10).

RADARTUBAN – Aksi pasar mendadak berbalik arah. Saham-saham fundamental yang selama ini terpinggirkan justru tampil jadi bintang pada perdagangan Kamis (9/10).

Sementara saham emiten milik konglomerat, yang sepanjang tahun jadi mesin penggerak indeks, kini justru kehabisan bensin.

Lonjakan tersebut menyeret IHSG ke rekor tertinggi sepanjang sejarah — ditutup menguat 1,04 persen ke level 8.250,94, bahkan sempat menyentuh 8.272,63 secara intraday.

Nilai transaksi meledak ke Rp 30,24 triliun, melibatkan lebih dari 37,63 miliar saham dalam 3,08 juta kali transaksi.

Pemicunya bukan laporan keuangan, bukan aksi korporasi. Tapi “Purbaya Effect.”

Kunjungan Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan RI, ke Bursa Efek Indonesia pagi tadi bikin pasar bergetar.

Ucapan kerasnya soal “saham gorengan” menjadi sinyal kuat bahwa pemerintah siap menertibkan pasar modal.

“Saya bilang belum saya kasih (insentif) sebelum dia rapikan kondisi pasar modal kita, di mana banyak yang goreng-goreng tapi santai aja, masih lenggang. Investor kecil jadi rugikan,” tegas Purbaya dikutip dari CNBC Indonesia.

Dia menambahkan, permasalahan saham gorengan akan dituntaskan dalam waktu dekat sebelum insentif fiskal diberikan.

Tak lama setelah pernyataan itu, saham-saham blue chip langsung menguat deras.

Blue Chip Balas Dendam

Deretan saham perbankan BUMN (himbara) jadi motor penggerak indeks.

Saham swasta raksasa BBCA, yang kemarin terpuruk ke level terendah tiga tahun, juga bangkit 2,37 persen ke Rp 7.550 per saham.

Emiten non-bank berkinerja solid ikut terdongkrak. TLKM, PTBA, dan ASII sama-sama menguat signifikan.

Konglomerat Tersandung

Sebaliknya, saham-saham yang selama ini jadi “pemanas indeks” justru kehilangan daya dorong.

BREN hanya menguat tipis 0,52 persen. Sedangkan BRPT stagnan dan CDIA malah terkoreksi.

Saham Grup Lippo MLPT, yang sudah reli 937 persen sejak awal tahun, tiba-tiba tumbang hingga auto rejection bawah (ARB) 14,98 persen ke Rp 191.900.

Saham-saham Grup Sinar Mas seperti SMMA dan DSSA juga kompak merah.

Padahal, dua saham ini sebelumnya jadi penggerak utama kenaikan IHSG lebih dari 1.000 poin tahun ini.

Pesan Pasar: Fundamental Kembali Berkuasa

Ucapan keras Purbaya jelas dibaca pasar sebagai peringatan: era “gorengan” bisa berakhir kapan saja.

Sentimen itu langsung menggiring investor kembali ke saham-saham fundamental kuat yang selama ini diabaikan.

Purbaya bahkan menyebut IHSG berpotensi “to the moon” dalam jangka pendek bila pasar kembali sehat.

Bukan isapan jempol, sebab reli kali ini didorong transaksi tebal, bukan sekadar euforia.

“Setelah masalah saham gorengan selesai, baru insentif kita pikirkan. Pasar harus sehat dulu,” kata mantan ketua LPS itu.

Ledakan IHSG kali ini bukan semata efek teknikal. Pasar sedang mengirim pesan keras: investor mulai menyeimbangkan kembali portofolio dari saham “panas” ke saham dengan fundamental nyata.

Jika “Purbaya Effect” berlanjut, bukan tidak mungkin IHSG akan mencetak rekor baru lagi dalam waktu dekat. (*)

Editor : Amin Fauzie
#perdagangan Kamis #Kunjungan Purbaya Yudhi Sadewa #saham gorengan #pasar modal #ihsg #bursa efek indonesia