Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Keroncong, Musik Kebanggaan Indonesia dari Kampung Tugu yang Terus Bertahan

Silva Ayu Triani • Jumat, 10 Oktober 2025 | 17:10 WIB
Ilustrasi grup Keroncong Tugu dari Jakarta Utara
Ilustrasi grup Keroncong Tugu dari Jakarta Utara

RADARTUBAN - Musik keroncong yang sudah mewarnai budaya Indonesia sejak abad ke-17 kembali menjadi perhatian sebagai warisan budaya yang penting untuk dilestarikan.

Keroncong ini berasal dari Kampung Tugu di Jakarta Utara, sebagai hasil akulturasi budaya keturunan Portugis dan masyarakat lokal.

Musik ini tidak hanya menjadi hiburan tetapi juga simbol persatuan dan perjuangan bangsa Indonesia.

Informasi ini disampaikan oleh Arthur James Michiels, seorang sejarawan dan musisi keroncong dari Kampung Tugu, dalam Podcast Nusantara, “Jejak Penjajah Portugis pada Musik Keroncong” yang tayang pada Jumat (14/2).

Keroncong pertama kali dimainkan oleh keturunan Portugis yang datang ke Kampung Tugu pada tahun 1661.

Mereka membawa alat musik seperti perunga dan macina yang menghasilkan bunyi khas “crong crong” yang menjadi ciri musik ini.

Awalnya keroncong adalah ungkapan rasa rindu dan curahan hati para pendatang jauh dari tanah leluhur.

Lagu-lagu keroncong, termasuk yang berbahasa kreol Portugis seperti Moresco, perlahan-lahan menyatu dengan budaya Nusantara dan menyebar luas hingga ke negara tetangga.

Selain sebagai hiburan, keroncong berperan penting bagi perjuangan kemerdekaan Indonesia dengan lagu-lagu yang penuh pesan persatuan dan semangat juang.

Musik ini diterima oleh berbagai lapisan masyarakat dan menjadi alat penyemangat yang ampuh, seperti yang dirasakan lewat karya Ismail Marzuki.

“Keroncong sudah tidak lagi musik marjinal, tapi musik popular,” ujar Arthur.

Namun, keroncong menghadapi tantangan berat di era modern, terutama dengan masuknya genre musik populer seperti K-pop dan J-pop.

Media yang kurang memberikan perhatian dan ruang bagi generasi muda untuk mengenal dan mengembangkan keroncong menjadi salah satu kendala utama.

Meski demikian, para pegiat tetap berusaha mengenalkan musik ini sejak dini melalui pendidikan dan kolaborasi kreatif agar musik keroncong tetap eksis.

“Kita harus terus berkarya supaya musik keroncong tidak sampai hilang,” tegas Arthur.

Keberhasilan keroncong Tugu menembus kancah internasional semakin menguatkan posisinya sebagai warisan budaya, dengan penampilan di luar negeri dan di istana negara sebagai duta budaya.

Komunitas keroncong pun tetap berjuang secara mandiri untuk mempertahankan musik ini melalui berbagai kegiatan edukasi dan pertunjukan meski menghadapi keterbatasan dana.

Harapan besar disematkan agar dalam lima tahun ke depan, keroncong dapat menjadi musik kebanggaan Indonesia yang dikenal hingga tingkat internasional, sejajar dengan warisan budaya dunia lainnya.

Pelestarian keroncong merupakan bagian dari menjaga akar budaya bangsa sekaligus memperkuat identitas nasional di tengah derasnya arus globalisasi.

Dukungan bagi komunitas dan generasi muda yang mencintai keroncong sangat diperlukan agar musik ini tetap hidup dan diwariskan ke masa depan. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#musik #budaya indonesia #keroncong #kampung tugu #Indonesia