Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Fenomena Grey Divorce di Indonesia: Ketika Pasangan Lansia Memilih Berpisah Demi Kebahagiaan di Usia Senja

Ika Nur Jannah • Sabtu, 11 Oktober 2025 | 18:15 WIB

 

Fenomena grey divorce menunjukkan perubahan makna kebahagiaan di usia senja.
Fenomena grey divorce menunjukkan perubahan makna kebahagiaan di usia senja.

RADARTUBAN - Fenomena perceraian abu-abu atau perceraian pada pasangan usia lanjut, semakin menarik perhatian masyarakat di Indonesia.

Istilah ini merujuk pada keputusan perceraian yang terjadi pada pasangan berusia 50 tahun ke atas yang telah menikah puluhan tahun, dan kini mulai menunjukkan tren peningkatan di tengah dinamika sosial dan keluarga modern.

Menurut psikologi klinis Fitri Jayi, M.Psi, stigma menjadi salah satu tantangan utama yang dihadapi pasangan lansia yang memutuskan bercerai.

Stigma ini muncul dari anggapan bahwa pasangan yang telah menjalani pernikahan puluhan tahun seharusnya mampu menyelesaikan konflik dan tetap bersama demi saling menjaga di usia senja.

Komentar lain yang sering muncul adalah kekhawatiran tentang siapa yang akan merawat mereka saat menua jika pasangan itu berpisah.

Selain stigma, pasangan lansia yang bercerai sering menjadi bahan pergunjingan, hal yang jarang dialami oleh pasangan muda yang bercerai.

Persepsi masyarakat memandang pernikahan lama harus bertahan selamanya, sehingga perceraian dianggap lanjut usia sebagai sebuah kegagalan yang menyakitkan secara sosial.

Fenomena perceraian abu-abu bukan sekedar tanda memudarnya komitmen, namun juga cerminan perubahan makna kebahagiaan dan hubungan di usia dewasa.

Putri Langka, psikolog klinis dari Fakultas Psikologi Universitas Pancasila, menyatakan bahwa saat ini banyak orang lebih mengutamakan kualitas hubungan daripada lamanya menikah.

Faktor-faktor yang mendorong perceraian abu-abu antara lain perubahan sosial, kurangnya komunikasi efektif, masalah ekonomi, perselingkuhan, hingga kelelahan emosional dalam pernikahan yang berlangsung lama.

Meski perceraian abu-abu memiliki dampak psikologis yang berat, terutama bagi anak-anak yang sudah dewasa, keputusan ini seringkali datang dari refleksi mendalam pasangan lanjut usia terhadap kualitas hidup dan kebahagiaan mereka.

Fenomena ini menuntut pemahaman dan empati lebih dari masyarakat agar pasangan lansia yang memutuskan berpisah tidak selalu dipersepsi negatif, tetapi dipandang sebagai bagian dari hak asasi manusia untuk memilih kehidupan yang lebih baik di usia senja. (*)

 

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#pasangan usia lanjut #perceraian abu abu #kebahagiaan #pernikahan #Indonesia #perceraian