Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Tari Kontemporer Indonesia: Ruang Ekspresi yang Terbatas di Tengah Kekuatan Budaya Tradisional

Silva Ayu Triani • Sabtu, 11 Oktober 2025 | 19:10 WIB

 

Tari Kontemporer: Gerak yang Melawan Batas, Suara Seniman di Tengah Kuasa Tradisi dan Keterbatasan Ruang
Tari Kontemporer: Gerak yang Melawan Batas, Suara Seniman di Tengah Kuasa Tradisi dan Keterbatasan Ruang

RADARTUBAN – Seni tari kontemporer di Indonesia menghadapi tantangan besar dari keterbatasan ruang dan dukungan, serta pengaruh kekuasaan budaya yang kuat di beberapa wilayah.

Di Yogyakarta, kekuasaan keraton yang masih kuat membatasi kebebasan ekspresi para seniman, berbeda dengan Solo yang memberi ruang lebih luas bagi para pelaku seni untuk berkreasi.

Meski demikian, para seniman terus berjuang mempertahankan keberlanjutan dan keikhlasan karya mereka dalam situasi yang sulit.

Informasi ini diungkap oleh budayawan dan pemerhati seni tari, Bambang Paningron dalam sebuah podcast yang tayang di kanal YouTube Mojokdotco pada Senin (6/10).

Permasalahan utama yang dihadapi para pelaku seni pertunjukan adalah minimnya pendanaan.

Banyak kelompok seni hanya mampu menghasilkan satu karya mandiri dalam setahun karena lebih fokus memenuhi pesanan demi kebutuhan hidup.

Kondisi ini menunjukkan bahwa profesi penari atau koreografer masih jauh dari menjanjikan secara finansial.

Dinamika seni tradisi seperti ketoprak juga menjadi sorotan. Di balik panggung, dunia ketoprak digambarkan keras, namun tetap bertahan berkat kuatnya dukungan komunitas.

Antusiasme anak muda pun cukup tinggi, dengan sekitar 2.500 pemain muda aktif di Yogyakarta.

“Kalau mau dihitung seorang penari koreografer itu kalau mau bikin karya mandiri bisa setahun sekali saja sudah bagus,” ujar Mas Bambang.

Tari kontemporer yang berangkat dari gagasan bebas berbeda dengan tari klasik yang memiliki pola dan aturan ketat.

Namun, ruang ekspresi untuk karya kontemporer sangat terbatas. Dukungan terhadap seni ini pun minim, membuat pertumbuhan seniman kontemporer berjalan lambat.

“Ruang ini sangat sempit dan tidak muncul di perencanaan kebudayaan,” jelas Bambang.

Dalam menghadapi keterbatasan, festival seperti Asiatri yang berdiri sejak 2005 hadir sebagai ruang penting pertukaran pengalaman antar pelaku seni dari lebih 30 negara, terutama pascagempa Yogyakarta 2006.

Festival ini memperkuat solidaritas dan diplomasi budaya melalui pertemuan lintas negara, membantu seniman membangun jejaring serta memahami perbedaan latar budaya.

Selain tari, seni pertunjukan lainnya seperti teater juga mengalami perubahan pendekatan, kian akademis dan menitikberatkan pada ekspresi tubuh.

Namun, pendekatan ini kerap sulit diterima masyarakat luas karena memerlukan pemahaman mendalam serta narasi yang kompleks.

Dalam ruang kebudayaan, seni berperan sebagai medium dialog dan penguat persatuan bangsa.

Ia menjembatani perbedaan, menyampaikan nilai universal, dan mencerminkan identitas masyarakat.

Pengaruh kekuasaan serta dinamika sosial turut membentuk perjalanan seni kontemporer di Indonesia. Seni tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga alat kritik sosial dan diplomasi budaya yang menghadirkan dialog konstruktif.

Harapan ke depan adalah terciptanya ekosistem seni yang inklusif dan berkelanjutan, yang menghargai kebebasan berekspresi serta mampu beradaptasi tanpa meninggalkan akar budaya, sehingga seni tetap menjadi penghubung dan perekat bangsa. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#tari kontemporer #Indonesia #budaya