Ada yang Sering Bikin Kontroversi
RADARTUBAN – Lonceng peringatan kembali berdentang keras di jantung kekuasaan.
Survei nasional terbaru mengungkapkan rapor merah enam menteri Kabinet Merah Putih.
Tingkat kepuasan publik terhadap kinerja mereka jeblok, bahkan berada jauh di bawah ambang batas wajar 40 persen.
Ini bukan sekadar angka—ini sinyal ketidakpercayaan publik yang tak bisa diabaikan.
Berdasarkan hasil survei Indo Survey & Consulting (ISC) per 3 Oktober 2025, keenam nama tersebut di antaranya, Maruarar Sirait (Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman) dengan tingkat kepuasan 38 persen.
Berikutnya, Widiyanti Putri Wardhana (Menteri Pariwisata) 36 persen dan Yandri Susanto (Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal) 31 persen.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia yang sering membuat kontroversi menempati posisi ketiga dari bawah dengan tingkat kepuasan publik hanya 28 persen!
Dua posisi terbawah juga tak kalah kontroversialnya. Yakni, Natalius Pigai (Menteri Hak Asasi Manusia) dengan tingkat kepuasan publik 26 persen dan Raja Juli Antoni (Menteri Kehutanan) paling buncit, 24 persen.
Angka-angka tersebut mencerminkan jurang kepercayaan yang kian menganga antara publik dan kabinet.
“Publik mulai kehilangan kesabaran. Dalam isu-isu krusial seperti perumahan, energi, hingga pariwisata, publik tidak melihat progres nyata,” ujar peneliti ISC dalam keterangan resminya.
Pariwisata hingga Energi, PR Berat Menumpuk
Sektor pariwisata yang diharapkan menjadi lokomotif pemulihan ekonomi pascapandemi justru tampil loyo.
Ketidakmampuan menciptakan terobosan membuat publik menilai kinerja Kementerian Pariwisata tak sesuai ekspektasi.
Hal serupa terjadi pada sektor energi dan sumber daya mineral. Polemik harga energi, subsidi, dan transisi energi yang tersendat menjadi catatan publik terhadap kinerja kementerian.
Di sektor perumahan, masalah backlog rumah rakyat, keterjangkauan harga, hingga lambannya pembangunan kawasan permukiman terus menghantui.
Tidak mengherankan jika Menteri Perumahan juga masuk daftar “paling tidak puas”.
Rapuhnya Trust, Ujian Politik untuk Kabinet
Turunnya kepuasan publik bukan sekadar soal angka—ini bisa menjadi bola salju politik.
Di tengah situasi ekonomi yang belum stabil, kabinet dituntut bekerja lebih nyata dan responsif.
“Kalau dibiarkan, ini bisa berdampak pada legitimasi pemerintah,” tambah analis ISC.
Khusus nama Bahlil Lahadalia, kejatuhan ke posisi papan bawah tak mengejutkan.
Sosok yang sebelumnya dikenal aktif dan agresif dalam menarik investasi kini dinilai publik tak lagi seefektif dulu.
Sementara Raja Juli Antoni, dengan angka terendah (24 persen), menghadapi sorotan tajam terkait kebijakan kehutanan yang dianggap jauh dari komitmen hijau.
Sinyal Keras Bagi Pemerintahan Prabowo
Menurunnya kepuasan publik terhadap para menteri ini bisa menjadi “bom waktu” bagi pemerintahan Presiden Prabowo jika tak segera ditangani.
Pemerintah tak hanya dituntut menggenjot kinerja, tapi juga mengembalikan kepercayaan rakyat yang mulai memudar.
“Ini warning keras. Kalau trust sudah rapuh, semua program akan susah diterima publik,” pungkas analis ISC. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni