RADARTUBAN - Peringkat kecerdasan global kembali membuka peta telanjang kesenjangan kualitas sumber daya manusia dunia.
Laporan terbaru dari Worlddata.info, yang dirilis dan dikutip dari Warta Ekonomi, menunjukkan dominasi kuat negara-negara Asia Timur pada daftar IQ tertinggi dunia. Data mencakup periode 2006–2024.
China dan Singapura duduk manis di peringkat teratas dengan rata-rata IQ 113. Tak jauh di belakang, Hong Kong, Makau, dan Taiwan menempel ketat dengan skor 110. Sementara Jepang serta Korea Selatan konsisten berada di papan atas dengan skor 109.
Dominasi Asia Timur ini bukan tanpa sebab. Negara-negara tersebut dikenal agresif dalam investasi pendidikan, riset, dan pengembangan teknologi.
Sistem pembelajaran ketat, akses luas terhadap sains dan teknologi, serta kultur akademik yang kuat menjadi bahan bakar utama tingginya capaian IQ nasional.
Tak hanya Asia, beberapa negara Eropa seperti Finlandia, Belanda, Swiss, dan Jerman juga masuk jajaran 20 besar dengan skor rata-rata di atas 103.
Peringkat ini kerap dikaitkan dengan kualitas pendidikan publik yang merata, investasi besar-besaran pada riset, serta stabilitas ekonomi yang menopang pengembangan sumber daya manusia.
Indonesia Jauh di Bawah Malaysia
Namun, kontras mencolok terlihat di wilayah negara berkembang. Indonesia, misalnya, harus puas berada di peringkat 128 dunia dengan rata-rata IQ 84.
Capaian ini terpaut sangat jauh dari deretan negara top, bahkan tertinggal dari Malaysia yang berada di urutan ke-63 (IQ 93).
Alarm Keras Bagi Indonesia
Kondisi ini menjadi alarm keras bagi Indonesia. Skor IQ bukan sekadar angka tes kognitif individual.
Namun, merefleksikan kualitas ekosistem belajar, kesehatan masyarakat, infrastruktur pendidikan, hingga daya dorong pembangunan ekonomi.
“IQ nasional rendah sering kali mencerminkan hambatan struktural yang tak sederhana—mulai dari gizi, akses pendidikan, hingga ketimpangan teknologi,” kata pengamat pendidikan nasional.
Dengan bonus demografi yang kian menyempit, Indonesia tak punya banyak waktu untuk berleha-leha.
Investasi jangka panjang di bidang pendidikan, riset, kesehatan, dan teknologi mutlak dilakukan jika tak ingin selamanya terperosok di papan bawah peta kecerdasan global. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni