RADARTUBAN — Gelombang kemarahan publik terhadap Trans7 terus membesar. Hingga Selasa (14/10) pukul 09.00, tagar #BoikotTrans7 masih bertengger di posisi trending berbagai platform media sosial seperti X, Instagram, dan TikTok.
Ribuan unggahan membanjiri lini masa, menyoroti tayangan program XPOSE Uncensored yang dinilai melecehkan dunia pesantren dan para kiai.
Pemicunya, tayangan XPOSE berjudul provokatif “Santrinya minum susu aja kudu jongkok, emang gini kehidupan di pondok?”.
Potongan video itu menyebar cepat dan menuai reaksi keras dari kalangan pesantren, alumni, dan organisasi keagamaan.
Kecaman Terus Berdatangan
Tayangan yang awalnya diduga kritik sosial itu dianggap melampaui batas dengan narasi yang menyudutkan, tidak berimbang, dan berpotensi merusak citra pesantren.
“Ulama kami dihormati, bukan dihina. Pesantren kami dijaga, bukan dijadikan isu,” tulis akun X @ansortrapang—mewakili suara GP Ansor Trapang.
Akun @mmubasysyar_bih bahkan menuding Trans7 menggunakan potongan video dengan “framing dan narasi murahan yang melukai keluarga besar Pondok Pesantren Lirboyo, Nahdlatul Ulama, dan pesantren secara umum.”
Nada serupa datang dari akun @Ahzaelani yang menyebut tayangan tersebut sebagai bentuk penghinaan terhadap para kiai.
“Potongan video dan narasinya terkesan merendahkan serta memfitnah para Kiai… hal yang tidak bisa dibenarkan,” tulisnya.
Kemarahan itu kian membara ketika banyak santri merasa almamater dan para kiai mereka diframing secara buruk.
“Serius, tidak ada santri yang rela kiai dan pondoknya dicaci, difitnah, dan diframing seburuk itu,” tulis akun @dliyaulhaqqii.
PKB Ingatkan Peran Besar Pesantren
Kritik juga datang dari ranah politik. Sekjen DPP Partai Kebangkitan Bangsa, M. Hasanuddin Wahid, mengingatkan peran besar pesantren dalam sejarah bangsa.
“Tanpa pesantren, pendidikan di Indonesia akan sulit berjalan. Pesantren didirikan para kiai jauh sebelum republik ini lahir,” ujarnya lewat akun resmi partai.
Isu ini sensitif karena dalam beberapa bulan terakhir, dunia maya memang kerap diramaikan pemberitaan yang “menggoreng” isu pesantren.
Banyak di antaranya tidak melalui proses jurnalistik yang berimbang, sekadar mengejar sensasi. Hal inilah yang membuat publik semakin marah saat XPOSE menyajikan narasi provokatif.
Desakan Permintaan Maaf Terus Bergema
Desakan agar Trans7 meminta maaf terbuka terus bergema. Banyak pihak menilai, media nasional sekelas Trans7 seharusnya menjunjung etika jurnalistik dan peka terhadap nilai-nilai keagamaan.
“Silakan kritik, tapi jangan dengan cara menghina,” ujar salah satu netizen.
Hingga berita ini diturunkan, pihak Trans7 belum mengeluarkan pernyataan resmi atau klarifikasi atas tayangan tersebut.
Sementara itu, gelombang protes dengan tagar #BoikotTrans7 terus meluas—menjadi sinyal kuat bahwa dunia pesantren tidak akan tinggal diam jika nilai dan kehormatan mereka dilecehkan. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni