Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Fenomena Fatherless Ancam Masa Depan Anak, Psikolog Ingatkan Pentingnya Peran Ayah Sejak Masa Kehamilan

Erlina Alfira Qurrotu Aini • Kamis, 16 Oktober 2025 | 14:29 WIB
Kurangnya peran ayah dalam pengasuhan anak berpotensi menghambat perkembangan psikologis
Kurangnya peran ayah dalam pengasuhan anak berpotensi menghambat perkembangan psikologis

RADARTUBAN - Isu fatherless atau minimnya peran ayah dalam pengasuhan anak kian menjadi sorotan tajam di Indonesia.

Di tengah pemikiran bahwa pengasuhan adalah tanggung jawab ibu sepenuhnya, absennya ayah baik secara fisik maupun psikologis memberikan pukulan pada perkembangan psikologis anak.

Anak-anak yang tumbuh tanpa keterlibatan ayah yang optimal berisiko besar mengalami hambatan serius dalam perkembangan diri dan kualitas hidup.

Hal ini dibahas tuntas oleh Melisa Magdalena, seorang Psikolog Anak dan Remaja, dalam podcast Halo Bunda di kanal YouTube Official Generos.

Baca Juga: Onadio Leonardo Disebut Menjadi Penyebab Indonesia Jadi Negara Fatherless, Usai Obrolkan di Podcast Deddy Corbuzier

Ia menjelaskan bahwa kondisi fatherless didefinisikan sebagai hilangnya peran ayah yang dampaknya sangat besar.

Padahal, kehadiran ayah sejak masa kehamilan telah terbukti menurunkan risiko komplikasi saat kehamilan, serta mampu meningkatkan perkembangan kognitif dan bahasa anak setelah lahir.

Anak yang punya ayah responsif dan aktif juga cenderung punya kepercayaan diri yang lebih tinggi, keterampilan sosial yang baik, dan prestasi akademik yang menonjol.

Sayangnya, di Indonesia, kesadaran akan pentingnya peran ayah masih tergolong minim.

Statistik menunjukkan fakta bahwa sekitar 80% konsultasi psikologi anak dihadiri oleh ibu tanpa keterlibatan aktif ayah.

“Seringkali, kalau saya tanya di awal, ayahnya ada di mana? 'Oh, ayahnya lagi kerja, Bu', atau 'Ayahnya lagi sibuk, Bu.' Seolah-olah urusan anak itu urusan ibu,” ungkap Melisa Magdalena.

Hal ini mencerminkan betapa beratnya beban pengasuhan di pundak ibu, sementara ayah cenderung pasif.

Kondisi ini berisiko membuat anak mengalami ketidakamanan psikologis yang menghambat perkembangan rasa percaya diri, rasa keberhargaan diri, dan kemampuan belajar.

Meski ibu bisa mengambil sebagian peran ayah, kualitas dan dampak emosionalnya tidak selalu sama.

Oleh karena itu, keterlibatan ayah sedini mungkin adalah investasi paling penting untuk masa depan anak.

Melisa menekankan bahwa pengalaman kasih sayang dan perhatian dari kedua orang tua adalah fondasi utama yang akan menentukan cara anak mencintai dan merawat anak-anak mereka kelak, sekaligus memutus siklus fatherless antar-generasi.

Salah satu cara paling sederhana untuk memulai koneksi adalah melalui aktivitas bersama.

“Dunia anak itu dunia bermain, maka kalau ingin terkoneksi, bermainlah bersama anak," tutupnya, memberikan pesan bagi para ayah. Konsultasi dini dan aksi nyata para ayah sangat dibutuhkan agar anak-anak tumbuh menjadi pribadi yang utuh dan percaya diri. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#fatherless #psikologis anak #kandungan #kehamilan #peran ayah