Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Suhu Panas Mencekik, BMKG Buka Suara: Ini Biang Kerok Cuaca Ekstrem Indonesia!

Tulus Widodo • Kamis, 16 Oktober 2025 | 14:05 WIB

 

Suhu Panas Sentuh 37,6°C, BMKG Beberkan Penyebab Cuaca Ekstrem yang Landa Indonesia
Suhu Panas Sentuh 37,6°C, BMKG Beberkan Penyebab Cuaca Ekstrem yang Landa Indonesia

RADARTUBAN – Cuaca panas ekstrem dengan suhu mencapai 37,6°C menyapu sejumlah wilayah Indonesia dalam beberapa hari terakhir.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan, lonjakan suhu ini bukan kebetulan—melainkan hasil kombinasi “duet maut” gerak semu matahari dan Monsun Australia yang kering dan membakar.

Deputi Bidang Meteorologi BMKG Guswanto menegaskan, saat ini posisi gerak semu matahari berada di selatan ekuator.

Kondisi tersebut membuat wilayah Indonesia bagian tengah dan selatan menerima radiasi sinar matahari secara langsung dan intens.

“Penguatan Monsun Australia membawa massa udara kering dan hangat. Akibatnya pembentukan awan minim, sinar matahari menghantam permukaan bumi tanpa banyak hambatan,” jelas Guswanto dikutip melalui akun X resmi @infoBMKG.

Baca Juga: Cuaca Tuban Siang Terik, Malam Bisa Hujan: BMKG Tuban Jelaskan Perubahan Cuaca Belakangan Ini

Jawa–NTT Membara

Pantauan BMKG menunjukkan suhu maksimum harian di atas 35°C merata di berbagai wilayah.

Provinsi Nusa Tenggara Timur, Pulau Jawa, Kalimantan, dan Papua menjadi wilayah dengan suhu paling mencolok.

Pada 12 Oktober, suhu tertinggi tercatat 36,8°C di Kapuas Hulu (Kalimantan Barat), Kupang (NTT), dan Majalengka (Jawa Barat).

Sehari kemudian, suhu hanya turun tipis. Sedangkan pada 14 Oktober, suhu kembali melonjak—bahkan mencapai 37,6°C di Majalengka dan Boven Digoel.

Direktur Meteorologi Publik BMKG Andri Ramdhani menegaskan, konsistensi tingginya suhu di banyak wilayah menunjukkan cuaca panas ini bukan fenomena sesaat.

Dominasi massa udara kering dan minimnya tutupan awan membuat panas seakan ‘terkunci’ di daratan.

Fenomena Normal, Tapi Dampaknya Nyata

BMKG menyebut, suhu panas ini masih tergolong fenomena musiman, tetapi dampaknya bisa sangat terasa di aktivitas masyarakat.

Periode panas diperkirakan bertahan hingga akhir Oktober atau awal November 2025.

Meski begitu, BMKG mengingatkan adanya peluang hujan lokal akibat proses konvektif pada sore hingga malam hari, terutama di wilayah Sumatera, Kalimantan, Jawa, dan Papua.

Cuaca bisa berubah cepat—dari terik menyengat di siang hari menjadi hujan lebat disertai angin kencang dan petir pada malamnya.

Seperti yang terjadi pada Rabu (15/10) malam, hujan lebat mengguyur wilayah Gresik dan Lamongan.

“Jangan remehkan perubahan cuaca mendadak. Terutama bagi masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan,” kata Guswanto.

Baca Juga: Perairan Tuban Alami Dua Kali Gempa dalam Sehari, Begini Penjelasan BMKG

Waspadai Heat Stress dan Risiko Lain

BMKG juga mengimbau masyarakat waspada terhadap heat stress atau tekanan panas.

Kelelahan, pusing, dan dehidrasi bisa terjadi bila paparan matahari terlalu lama.

Masyarakat diminta minum air cukup, hindari aktivitas berat di siang hari, dan gunakan pelindung tubuh saat berada di luar ruangan.

“Pantau terus informasi cuaca terkini melalui situs resmi bmkg.go.id, media sosial BMKG, atau Info BMKG untuk antisipasi dini,” tandas Andri.

Fenomena panas ini mungkin bukan hal baru, tapi intensitasnya menunjukkan bahwa perubahan iklim dan dinamika atmosfer tak bisa lagi dianggap remeh.

Indonesia tengah menghadapi musim panas yang tak sekadar terik, melainkan menguji daya tahan tubuh masyarakat. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#musim panas #BMKG #suhu panas #gerak semu matahari #australia #Cuaca Panas Ekstrem