RADARTUBAN – Gereja Katolik Indonesia kembali berduka. Mgr. Alfred Gonti Pius Datubara, OFMCap, Uskup Emeritus Keuskupan Agung Medan sekaligus Uskup pertama dari suku Batak, berpulang ke hadapan Bapa di surga pada Jumat (17/10), di usia 91 tahun.
Kabar duka ini dikonfirmasi langsung oleh Keuskupan Agung Medan melalui akun resmi Instagram mereka, serta oleh Gereja Katedral Medan yang turut menyampaikan doa dan belasungkawa bagi sosok gembala umat yang penuh kasih itu.
Mgr. Pius Datubara lahir pada 12 Februari 1934, dan ditahbiskan menjadi imam pada 22 Februari 1964 oleh Uskup Agung Medan kala itu, Mgr. Antoine Henri van den Hurk.
Dua belas tahun kemudian, tepatnya 24 Mei 1976, ia diangkat menjadi Uskup Agung Medan, menggantikan pendahulunya yang mengundurkan diri.
Selama lebih dari tiga dekade memimpin, Mgr. Pius dikenal sebagai figur sederhana namun teguh dalam pelayanan.
Ia bukan hanya pemimpin rohani bagi umat Katolik di Sumatera Utara, tetapi juga tokoh perdamaian dan sosial yang dekat dengan masyarakat lintas agama.
“Beliau adalah sosok yang penuh kasih, rendah hati, dan menjadi teladan bagi banyak imam muda,” tulis akun resmi @komsos_kam dalam unggahan duka citanya.
Salah satu momen bersejarah yang tak terlupakan adalah ketika Mgr. Pius Datubara mendampingi Paus Yohanes Paulus II dalam kunjungan pastoral ke Medan — sebuah peristiwa bersejarah bagi umat Katolik Indonesia.
Usai memimpin Keuskupan Agung Medan hingga 12 Februari 2009, beliau pensiun sebagai Uskup Emeritus, namun tetap aktif dalam kegiatan rohani dan pembinaan umat hingga usia lanjut.
Mgr. Pius Datubara menghembuskan napas terakhir di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan, meninggalkan warisan spiritual dan pelayanan tanpa pamrih bagi Gereja Katolik dan masyarakat Sumatera Utara.
Bagi umat Batak Katolik, namanya akan selalu dikenang bukan hanya sebagai pemimpin pertama dari darah dan budaya mereka, tetapi juga sebagai bapa rohani yang menanamkan cinta, pengabdian, dan damai sejahtera. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni