RADARTUBAN - Frozen shoulder, atau yang dikenal sebagai bahu beku, adalah kondisi kekakuan dan nyeri sendi bahu yang disebabkan oleh peradangan.
Kondisi ini membatasi kemampuan bahu untuk digerakkan dan umumnya dialami orang berusia di atas 40 tahun, terutama wanita.
Dilansir dari kanal YouTube Klinik Utama DR. Indrajana, Dr. Liauw Roger Leo, Sp.OT, seorang Dokter Spesialis Ortopedi dan Traumatologi, menjelaskan mengenai Frozen Shoulder.
Gejala utama frozen shoulder adalah nyeri dan kekakuan yang berkembang melalui tiga fase khas yang bisa berlangsung 1 hingga 3 tahun secara keseluruhan.
1. Fase Membeku (Freezing stage): Bahu mulai terasa sakit saat digerakkan dan pergerakannya terbatas. Fase ini berlangsung sekitar 6 minggu hingga 9 bulan.
2. Fase Beku (Frozen stage): Rasa sakit mulai mereda, namun kekakuan bahu meningkat. Fase ini bisa berlangsung 4 hingga 6 bulan dan mengganggu aktivitas sehari-hari.
3. Fase Mencair (Thawing stage): Perlahan, gerakan bahu mulai membaik, umumnya terjadi dalam rentang waktu 6 bulan sampai 2 tahun.
Diagnosis dapat dilakukan melalui anamnesis, pemeriksaan fisik gerakan bahu yang khas terbatas, dan perlu dibedakan dengan gangguan lain yang mirip. Penyebab pasti frozen shoulder masih belum jelas.
Namun, ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risikonya, antara lain:
1. Usia 40 tahun ke atas, dan lebih sering menyerang wanita.
2. Minimnya pergerakan bahu dalam jangka waktu lama, misalnya setelah menjalani operasi, mengalami cedera, atau stroke.
3. Adanya masalah kesehatan tertentu, seperti diabetes, gangguan tiroid, penyakit jantung, atau penyakit Parkinson.
Penanganan efektif pada fase awal adalah pengobatan konservatif, seperti pemberian obat anti-inflamasi dan fisioterapi.
Jika metode ini tidak berhasil, teknologi artroskopi minimal invasif dapat dilakukan.
Tindakan bedah ini bertujuan untuk melepaskan kapsul bahu yang menyusut, memungkinkan sendi kembali bergerak normal.
“Frozen shoulder ini bukan cuma sakit bahu biasa, tapi ada proses peradangan di kapsul sendi bahu, di mana kapsul ini akan menebal dan mengerut,” ungkap Dr. Liauw.
Kondisi kesehatan tertentu seperti diabetes, gangguan tiroid, penyakit jantung, atau penyakit Parkinson juga menjadi faktor pemicu.
Penting untuk diketahui, kondisi ini bukan hanya sekadar sakit biasa; faktor risiko juga mencakup cedera berulang, diabetes, autoimun, dan kebiasaan hidup tertentu, termasuk posisi tidur.
Teknologi endoskopi memungkinkan tindakan operasi dengan luka kecil, risiko minimal, dan pemulihan cepat.
Frozen Shoulder tidak perlu ditakuti karena dengan penanganan tepat waktu hasilnya bisa sangat baik.
“Masyarakat harus lebih cermat mengenali gejala dan segera ke dokter agar bisa ditangani dengan benar,” tegas Dr. Liauw.
Masyarakat disarankan untuk segera berkonsultasi ke dokter bila nyeri dan kekakuan bahu berlangsung lebih dari 4 minggu guna mendapatkan penanganan medis dan mencegah penurunan fungsi bahu yang parah. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni