RADARTUBAN – Asap memang sudah reda, tapi bara kemarahan warga belum padam.
Lima hari pasca kebakaran di kawasan kilang minyak PT Trans Pacific Petrochemical Indotama (TPPI), warga dua desa di pesisir Kecamatan Jenu, Tasikharjo dan Remen masih menunggu tanggung jawab yang tak kunjung datang. Mereka menuntut kompensasi.
Insiden itu memang tanpa korban jiwa, namun meninggalkan trauma dan rasa tidak aman. Kemarin (20/10), puluhan warga mendatangi Balai Desa Tasikharjo.
Pasilah, perempuan sepuh yang rumahnya hanya selemparan batu dari pagar kilang, berbicara dengan nada gemetar.
‘’Begitu mendengar ledakan keras saya langsung lari menyelamatkan diri. Atap rumah juga mulai kena paparan asap hitam tebal, baunya membuat saya tidak kuat,’’ ungkapnya.
Dia hidup seorang diri di rumah kecilnya, tak jauh dari sumber ledakan.
‘’Puluhan tahun saya tinggal di dekat sana (PT TPPI, Red) tak pernah mendapat perhatian, bahkan santunan pun tak pernah dapat,’’ jelas dia.
Kepala Desa Tasikharjo, Damuri, tak menutup mata. Dia menyebut warga sekarang ini hidup dengan rasa waswas.
‘’Dari dulu bilangnya akan segera memasang sirine, faktanya hingga saat ini hanya wacana semata,’’ keluhnya.
Menurutnya, warga butuh sistem peringatan dini di setiap pemukiman, bukan hanya di dalam kawasan industri.
‘’Kompensasi terhadap warga sudah selayaknya diberikan, mengingat banyak warga terdampak mulai dari trauma hingga imbas dari paparan asap lalu,’’ bebernya.
Suhu forum makin panas. Warga memberi tenggat waktu hingga Rabu (22/10). Bila TPPI masih bungkam, mereka mengancam turun ke jalan.
“Unjuk rasa akan digelar,” kata beberapa warga kompak.
Area Manager CSR & Comrell PT TPPI Tuban Tinoto Hadi Sucipto menanggapi tuntutan tersebut. ‘’Saya belum bisa memastikan, hanya saja tetap akan kita upayakan,’’ ujarnya saat dikonfirmasi.
Soal sirine dan sistem tanggap darurat, TPPI berjanji bakal melakukan pembenahan.
‘’Evaluasi pastinya akan dilakukan,’’ pungkasnya. (an/ds)