RADARTUBAN - Masa santri, masa penuh cerita yang tak tergantikan. Menjadi santri bukan hanya soal belajar kitab dan menjalani rutinitas pesantren. Ia adalah fase hidup yang penuh warna.
Dari tawa, tangis, hingga momen-momen yang membentuk karakter. Banyak hal yang mungkin sudah berlalu, tapi kenangannya tetap tinggal.
Dan bagi banyak santri, ada empat kenangan yang paling susah dilupakan.
1. Teman Sekamar: Dari Asing Jadi Saudara
Awal masuk pesantren, kita ditempatkan sekamar dengan orang-orang yang belum kita kenal.
Ada yang pendiam, ada yang cerewet, ada yang suka ngorok, ada yang rajin bangunin subuh.
Tapi seiring waktu, mereka bukan lagi sekadar teman sekamar, mereka jadi saudara.
Di kamar itulah kita belajar berbagi, sabar, dan saling menguatkan. Dari curhat sebelum tidur, makan bareng mie instan, sampai saling bantu hafalan.
Kenangan bersama mereka adalah harta yang tak tergantikan.
2. Bangun Subuh dan Berebut Kamar Mandi
Salah satu rutinitas yang paling ikonik di pesantren adalah bangun subuh. Alarm belum ada, yang ada suara ketukan pintu, teriakan ustadz, atau lemparan sandal dari teman.
Lalu dilanjutkan dengan antre kamar mandi yang panjang, kadang sambil ngantuk, kadang sambil hafalan.
Meski terdengar sederhana, momen ini justru jadi kenangan yang paling hangat.
Karena di sanalah kita belajar disiplin, belajar bangun lebih awal, dan belajar sabar dalam antrean.
3. Ngaji Malam dan Suasana Menyepi
Setelah aktivitas seharian, malam adalah waktu untuk menyepi. Ngaji malam, murojaah hafalan, atau sekadar duduk diam di musholla sambil merenung.
Suasana malam di pesantren punya nuansa yang khas: tenang, syahdu, dan penuh refleksi.
Banyak santri yang justru menemukan ketenangan spiritual di waktu-waktu seperti ini.
Di tengah kesunyian, kita merasa dekat dengan Tuhan, dan merasa damai dengan diri sendiri.
4. Dihukum Kyai: Teguran yang Membekas Tapi Mendidik
Tak ada santri yang tak pernah kena tegur. Entah karena telat ngaji, lupa tugas, atau ketahuan ngobrol saat pelajaran.
Tapi teguran dari kyai bukan sekadar hukuman, ia adalah bentuk kasih sayang. Kadang berupa nasihat, kadang berupa tugas tambahan, kadang cukup dengan tatapan tajam yang bikin kita merenung semalaman.
Meski saat itu terasa berat, di kemudian hari kita sadar: hukuman itu adalah pelajaran. Ia membentuk karakter, mengingatkan batas, dan menunjukkan bahwa kyai benar-benar peduli.
Kenangan Santri, Kenangan Seumur Hidup
Jadi santri adalah pengalaman yang tak bisa digantikan. Ia bukan hanya soal ilmu, tapi soal hidup.
Dan kenangan-kenangan itu adalah bagian dari proses menjadi pribadi yang lebih kuat, lebih sabar, dan lebih bijak.
Karena pesantren bukan hanya tempat belajar, tapi tempat tumbuh. Dan kenangan sebagai santri akan selalu jadi bagian dari siapa kita hari ini. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni