RADARTUBAN - Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur kembali menjadi perhatian dunia internasional.
Kali ini, perhatian datang dari Konsulat Jenderal Jepang yang menunjukkan ketertarikan terhadap potensi riset eceng gondok di Jawa Timur.
Dalam kunjungan resmi ke kantor BPBD Jatim, pihak Jepang melihat langsung upaya mitigasi dan edukasi bencana yang telah dikembangkan oleh lembaga tersebut.
Kunjungan tersebut dipimpin oleh Wakil Konjen Jepang Ishii Yutaka, didampingi Regional Security Officer Ishikawa dan Staf Konjen Jepang, Defit Tri Hardianto.
Mereka disambut langsung oleh Kalaksa BPBD Jatim Gatot Soebroto, bersama sejumlah pejabat terkait.
Dalam pertemuan itu, kedua pihak berdiskusi mengenai berbagai tantangan penanggulangan bencana di Jatim, termasuk persoalan lingkungan yang kerap menjadi penyebab banjir akibat penyumbatan sungai oleh tanaman eceng gondok.
Fokus Jepang pada Penelitian Eceng Gondok di Jawa Timur
Riset eceng gondok di Jawa Timur menjadi sorotan utama dalam diskusi antara BPBD Jatim dan Konjen Jepang.
Gatot Soebroto menyampaikan bahwa keberadaan tanaman tersebut sering menghambat aliran sungai dan memicu banjir di sejumlah wilayah.
“Secara khusus, kami meminta bantuan Tim Konjen Jepang untuk melakukan penelitian terhadap tanaman Eceng Gondok, yang kerap menjadi penyumbat aliran sungai dan mengakibatkan banjir,” ujar Gatot dalam keterangan tertulisnya, Rabu (22/10).
Permintaan tersebut disambut positif oleh pihak Jepang.
Deputi Konjen Jepang Ishii Yutaka menyebut bahwa kerjasama ini sejalan dengan misi pemerintah Jepang dalam mendukung pengurangan risiko bencana dan pelestarian lingkungan.
“Kami sebetulnya sudah bekerjasama dengan BPBD Jatim. Saat ini, kami juga ingin mengetahui kondisi dan potensi bencana untuk kami sampaikan ke warga Jepang di sini,” terang Ishii Yutaka.
Apresiasi Jepang untuk Edukasi Bencana BPBD Jatim
Selain membahas riset eceng gondok di Jawa Timur, rombongan Konjen Jepang juga meninjau Taman Edukasi Bencana BPBD Jatim.
Mereka mencoba berbagai wahana edukatif seperti simulator gempa, virtual reality (VR) bencana, dan Tenda Pendidikan Bencana (Tenpina).
“Saya kira, fasilitas di sini juga sudah komplit. Tinggal bagaimana meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap bencana, seperti yang disampaikan tadi,” tambah Ishii Yutaka.
Apresiasi tersebut menjadi pengakuan atas keseriusan BPBD Jatim dalam membangun budaya siaga bencana.
Gatot Soebroto menegaskan, sinergi internasional seperti ini sangat penting untuk menemukan solusi nyata bagi persoalan lingkungan dan kebencanaan di Jawa Timur.
“Kami berharap, kunjungan dan kerjasama dengan Konjen Jepang saat ini bisa memberikan solusi terhadap persoalan kebencanaan di Jatim,” harapnya.
Menuju Kolaborasi Riset dan Teknologi Mitigasi Bencana
Kunjungan tersebut menandai langkah awal menuju kolaborasi riset eceng gondok di Jawa Timur.
Melalui dukungan Jepang yang dikenal unggul dalam teknologi lingkungan, diharapkan muncul inovasi yang mampu mengubah eceng gondok dari masalah menjadi sumber daya yang bermanfaat.
Dengan pendekatan ilmiah dan dukungan teknologi, riset eceng gondok di Jawa Timur diharapkan dapat memberikan dampak langsung bagi masyarakat.
Terutama dalam mencegah banjir serta menjaga kelestarian ekosistem sungai. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama