RADARTUBAN - Vitiligo adalah penyakit kulit yang ditandai dengan munculnya bercak-bercak putih pada area tubuh.
Kondisi ini terjadi karena hilangnya pigmen warna pada kulit.
Siapa saja bisa mengalami vitiligo, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa.
Bercak putih ini biasanya muncul pada bagian tubuh yang sering terpapar sinar matahari, seperti tangan, wajah, dan sekitar mata.
Vitiligo bukan penyakit menular, sehingga tidak akan berpindah lewat sentuhan dengan penderita.
Informasi ini disampaikan oleh ahli forensik dan patologi, dr. Djaja Surya Atmadja, Sp.FM., DFM., SH., PhD, dalam sebuah podcast yang tayang di kanal YouTube X-Undercover pada Jumat (19/9).
Penyebab utama Vitiligo adalah gangguan autoimun, di mana sistem kekebalan tubuh penderita keliru menyerang sel melanosit (sel yang bertanggung jawab memproduksi pigmen melanin), yang merupakan penentu warna kulit.
Ketika melanosit rusak, produksi melanin terhenti, dan akibatnya, kulit kehilangan warnanya, menjadi putih dengan batas yang sangat jelas dan tegas.
Kondisi ini sangat berbeda dengan panu, yang bercak putihnya tidak terlalu kontras dan cenderung dapat hilang jika diobati.
"Putihnya putih banget dan batasnya tegas seperti bekas terbakar kulit," ungkap dr. Djaja.
Perlu diketahui, Vitiligo tidak hanya menyerang kulit, tetapi juga bisa mempengaruhi rambut dan selaput lendir.
Seperti di bagian dalam bibir.
Selain itu, kondisi ini seringkali berhubungan dengan penyakit autoimun lain, seperti gangguan tiroid, lupus, dan diabetes tipe 1, yang menunjukkan adanya hubungan antara sistem kekebalan tubuh yang terganggu.
Meskipun hingga saat ini belum ditemukan obat yang dapat menyembuhkan Vitiligo sepenuhnya, ada pilihan terapi yang tersedia untuk membantu mengelola kondisi ini.
Salah satunya adalah terapi menggunakan salep kortikosteroid, yang dapat membantu memperlambat penyebaran bercak putih.
Namun, salep ini memiliki batasan dan tidak boleh digunakan terus-menerus dalam jangka panjang karena berpotensi menimbulkan efek samping yang tidak diinginkan.
Selain itu, Vitiligo juga dapat mempengaruhi kondisi psikososial penderitanya. Rasa malu dan diskriminasi di lingkungan sosial menjadi beban tersendiri.
Bagi penderita yang merasa terganggu dengan penampilan akibat bercak putih, ada solusi kosmetik yang bisa dilakukan.
Mereka dapat menggunakan makeup atau foundation sebagai kamuflase agar bercak putih tidak terlalu terlihat.
"Orang yang merasa terganggu dengan penampilannya bisa menggunakan kamuflase, seperti bedak atau foundation," saran dr. Djaja.
Selain itu, penggunaan sunscreen atau tabir surya juga sangat dianjurkan.
Hal ini dikarenakan kulit penderita Vitiligo yang kekurangan pigmen melanin menjadi lebih sensitif dan sangat mudah terbakar oleh sinar UV matahari.
Vitiligo adalah kondisi yang tidak memalukan dan tidak menular, sehingga penderita tidak perlu takut berinteraksi dengan orang lain.
Stigma sosial terhadap penderita harus dihilangkan agar mereka mendapat dukungan dan dapat menjalani hidup dengan percaya diri.
Dukungan keluarga dan masyarakat sangat penting untuk meningkatkan kualitas hidup psikologis penderita vitiligo.
Dengan pemahaman dan dukungan yang baik, harapannya masyarakat dapat lebih terbuka dan tidak mendiskriminasi orang dengan vitiligo. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama