Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Kilasan Perjalanan Hidup Ki Anom Suroto: Dari Bocah Klaten ke Singgasana Dalang Legendaris

Tulus Widodo • Jumat, 24 Oktober 2025 | 15:41 WIB
Sang maestro wayang Ki Anom Suroto berpulang di usia 77 tahun
Sang maestro wayang Ki Anom Suroto berpulang di usia 77 tahun

RADARTUBAN – Nama Ki Anom Suroto bukan sekadar tercatat dalam buku sejarah pedalangan Jawa, tapi juga dalam ingatan kolektif masyarakat yang tumbuh bersama suara suluk dan gamelan.

Selama lebih dari lima dekade, almarhum menjadi simbol kesinambungan budaya Jawa — menjembatani masa lalu yang sarat filosofi dengan zaman modern yang haus hiburan.

Berikut kilasan perjalanan hidup sang maestro yang berpulang pada Kamis (23/10), meninggalkan warisan budaya yang tak ternilai.

Lahir dari Rahim Pedalangan

Ki Anom Suroto lahir di Klaten, 11 Agustus 1948, dalam keluarga seniman wayang kulit.

Ayahnya, Ki Sadiyun Harjadarsana, adalah dalang ternama yang disegani di era 1950–an.

Dari sang ayah, Anom kecil belajar bahwa menjadi dalang bukan sekadar menggerakkan boneka kulit, tapi menggerakkan hati penonton.

Dalang yang memiliki nama Kanjeng Raden Tumenggung Haryo Lebdo Nagoro itu mulai mengenal blencong dan kelir sejak usia 8 tahun.

Pada usia 12 tahun, Ki Anom sudah mulai mendalang di acara desa, dengan panggung bambu dan penerangan seadanya.

Bakat dan ketekunannya membuat namanya cepat dikenal di wilayah Klaten dan sekitarnya.

Meledak di Era 1970-an

Dekade 1970-an menjadi masa ledakan kariernya. Saat banyak seniman pedalangan masih berkutat di pentas tradisional, Ki Anom berani masuk ke media massa dan panggung modern.

Penampilannya yang penuh improvisasi, disertai pembacaan karakter tokoh yang kuat, membuatnya disukai lintas usia.

Murid Ki Nartosabdo itu menjadi dalang pertama yang rutin tampil di TVRI Nasional, membawakan lakon-lakon seperti Bima Bungkus, Semar Boyong, dan Kresna Duta.

Dari situ, namanya melambung ke level nasional. Wayang, yang dulu dianggap tontonan desa, berubah menjadi hiburan intelektual sekaligus moralistik bagi kalangan perkotaan.

Dalang dengan Gaya Humanis dan Filosofis

Ki Anom dikenal bukan hanya karena teknik sabetannya yang halus dan bertenaga, tapi karena kedalaman narasinya.

Setiap tokoh yang ia mainkan membawa pesan sosial. Semar, misalnya, tak hanya menjadi punakawan lucu, tapi simbol kebijaksanaan rakyat kecil.

Arjuna bukan sekadar pahlawan, tapi gambaran manusia modern yang harus berperang melawan ambisi.

Dalang yang pernah belajar di Kursus Pedalangan yang diselenggarakan Himpunan Budaya Surakarta (HBS) itu sering berkata, “Wayang itu bukan untuk menidurkan orang, tapi untuk membangunkan hati mereka.”

Dalam setiap pagelaran, ia selalu menyisipkan kritik sosial — mulai dari isu korupsi, lingkungan, hingga moral generasi muda — tapi disampaikan lewat bahasa simbol dan humor yang elegan.

Itu sebabnya, Ki Anom dihormati oleh masyarakat, dicintai oleh seniman, dan dihargai oleh akademisi.

Pengakuan Nasional dan Kolaborasi Internasional

Kiprahnya membuat pemerintah memberikan berbagai penghargaan, termasuk Satyalancana Kebudayaan dari Presiden RI.

Ia juga kerap diundang tampil di luar negeri — Jepang, Amerika Serikat, Belanda, dan Australia — untuk memperkenalkan wayang sebagai warisan dunia.

Di tangan Ki Anom, wayang menjadi diplomasi budaya Indonesia. Ia mampu menampilkan lakon klasik Jawa dalam format yang bisa dipahami oleh penonton internasional tanpa kehilangan ruh spiritualnya.

Bahkan, beberapa akademisi luar negeri menyebut Ki Anom sebagai “the voice of living Javanese philosophy.”

Mendirikan Padepokan dan Mewariskan Generasi

Menjelang usia senja, Ki Anom tak berhenti berkarya. Ia mendirikan Kebon Seni Timasan di Sukoharjo, sebuah padepokan yang menjadi pusat pembelajaran wayang, karawitan, dan tari Jawa.

Dari tempat itu, lahir banyak dalang muda, termasuk beberapa putranya yang kini melanjutkan kiprah sang maestro.

Baginya, regenerasi adalah bentuk ibadah. “Kalau wayang berhenti di saya, berarti saya gagal. Dalang sejati itu harus menyalakan, bukan memadamkan,” katanya dalam satu wawancara dengan Jawa Pos tahun 2018.

Akhir yang Tenang, Warisan yang Panjang

Setelah empat hari dirawat karena penyakit jantung di RS Dr Oen Kandangsapi, Surakarta, Ki Anom Suroto berpulang dengan tenang di usia 77 tahun.

Ia meninggalkan seorang istri, 8 anak, 18 cucu, serta ribuan murid dan penggemar di seluruh Nusantara.

Namun, warisan terbesarnya bukanlah penghargaan atau pementasan, melainkan semangat untuk menjaga napas kebudayaan tetap hidup.

Dalang yang memiliki gaya pedalangan Gagrag Surakarta itu membuktikan bahwa wayang bukan peninggalan masa lalu, tapi jantung dari identitas bangsa.

Kini, sang dalang agung telah menutup kelir, tapi suara sabdanya masih bergetar di hati generasi. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#klaten #wayang kulit #Ki Anom Suroto #warisan budaya #jawa #pendalangan #dalang