RADARTUBAN - Kabar harga pupuk turun 20 persen menjadi angin segar bagi jutaan petani di Jawa Timur.
Setelah bertahun-tahun menghadapi kenaikan harga bahan produksi pertanian, kini mereka bisa bernapas lega.
Penurunan ini diumumkan langsung oleh Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Andi Amran Sulaiman, dan mulai berlaku sejak Rabu (22/10).
Kebijakan tersebut mencakup dua jenis pupuk utama yang paling banyak digunakan, yaitu Urea dan NPK.
Untuk pupuk Urea, harga turun dari Rp2.250 menjadi Rp1.800 per kilogram atau dari Rp112.500 menjadi Rp90.000 per sak ukuran 50 kilogram.
Sementara pupuk NPK kini dijual dari Rp2.300 menjadi Rp1.840 per kilogram, setara Rp92.000 per sak.
Ketua Fraksi PDIP Jawa Timur, Wara Renny Sundari Pramana, menyambut positif langkah tersebut.
Ia menilai kebijakan itu menjadi kabar baik yang benar-benar berpihak kepada petani kecil.
“Kami menyambut baik kebijakan penurunan harga ini karena jelas berpihak kepada petani. Tapi yang tak kalah penting adalah memastikan pupuknya tersedia dan sampai ke tangan petani sesuai harga resmi, tanpa permainan distributor atau pengecer,” ujarnya, Jumat (24/10).
Harapan agar Pengawasan Distribusi Diperketat
Meski harga pupuk turun 20 persen, Wara Renny menegaskan perlunya pengawasan ketat terhadap distribusi pupuk bersubsidi.
Ia meminta agar pemerintah daerah, TNI, Polri, dan kelompok tani ikut terlibat aktif dalam memastikan penyaluran pupuk berjalan lancar dan tepat sasaran.
“Jawa Timur adalah salah satu lumbung pangan nasional. Maka kebijakan sebesar ini harus diikuti langkah konkret di lapangan, distribusi lancar, stok cukup, dan harga sesuai aturan,” tambahnya.
Ia juga menilai kebijakan ini sejalan dengan semangat kedaulatan pangan yang diperjuangkan partainya, yakni menjamin ketersediaan sarana produksi pertanian dengan harga terjangkau serta menjaga stabilitas produksi nasional.
Efek Langsung ke Biaya Produksi dan Kesejahteraan Petani
Dengan harga pupuk turun 20 persen, biaya produksi pertanian diperkirakan akan menurun signifikan.
Hal ini diharapkan dapat meningkatkan Nilai Tukar Petani (NTP) sekaligus memperbaiki kesejahteraan mereka.
“Petani adalah tulang punggung ketahanan pangan bangsa. Kalau mereka makmur, bangsa pun kuat,” tegas Wara Renny.
Sementara itu, Menteri Pertanian sekaligus Kepala Bapanas Andi Amran Sulaiman menyebut penurunan harga ini merupakan terobosan besar pada tahun kedua pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
“Selama puluhan tahun harga pupuk selalu naik, tapi kini berhasil diturunkan. Ini adalah langkah bersejarah bagi dunia pertanian,” ujar Amran dalam keterangan pers di Jakarta.
Langkah penurunan harga pupuk bersubsidi ini menjadi momentum penting bagi sektor pertanian nasional.
Selain membantu petani, kebijakan tersebut juga diharapkan memperkuat ketahanan pangan dan menjaga stabilitas produksi di tengah fluktuasi harga bahan pokok. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni