Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Mengenal Fenomena Ikan Munggut Bojonegoro: Ketika Bengawan Solo Seolah Mabuk dan Ikan Naik ke Permukaan

M. Afiqul Adib • Senin, 27 Oktober 2025 | 19:05 WIB

 

Ilustrasi fenomena ikan munggut.
Ilustrasi fenomena ikan munggut.

RADARTUBAN - Di sepanjang aliran Bengawan Solo, ada satu fenomena alam yang unik sekaligus misterius.

Namanya “ikan munggut”, peristiwa ketika ikan-ikan sungai tiba-tiba naik ke permukaan air, berenang lemah ke tepian, seolah sedang mabuk berat.

Fenomena ini juga dikenal dengan istilah “pladu” atau “ngumboh” oleh masyarakat sekitar.

Bukan karena airnya diberi alkohol, tapi karena perubahan debit air yang mendadak membuat ikan-ikan kehilangan keseimbangan hidupnya.

Bagi warga yang tinggal di sekitar sungai, munggut bukan sekadar kejadian alam.

Ini adalah momen langka yang ditunggu-tunggu. Saat ikan naik ke permukaan, menangkapnya jadi jauh lebih mudah.

Tidak perlu jaring, tidak perlu kail, cukup bawa ember dan sedikit refleks.

Tapi di balik kemeriahan panen dadakan itu, munggut menyimpan cerita ekologis yang menarik untuk dikenali lebih dalam.

Apa Itu Fenomena Munggut?

Secara ilmiah, munggut terjadi ketika debit air sungai meningkat secara drastis dan tiba-tiba. Biasanya karena hujan deras di hulu atau pembukaan bendungan.

Perubahan ini mengganggu kadar oksigen dalam air, membuat ikan-ikan stres dan kehilangan kemampuan berenang normal.

Mereka pun naik ke permukaan, mencari udara, dan bergerak lamban ke pinggir sungai.

Fenomena ini bukan hanya terjadi di Bengawan Solo, tapi Bengawan Solo adalah salah satu sungai yang paling sering jadi “panggung utama” munggut.

Warga sekitar sudah hafal tanda-tandanya: air keruh, arus deras, dan ikan mulai terlihat gelisah.

Antara Berkah dan Alarm Ekologis

Bagi masyarakat, munggut adalah berkah. Ikan yang biasanya sulit ditangkap, kini bisa dipanen dengan mudah.

Suasana sungai pun berubah jadi semacam pasar dadakan: anak-anak tertawa, orang tua sibuk memilah hasil tangkapan, dan tetangga saling berbagi.

Namun dari sisi ekologis, munggut juga bisa jadi alarm. Ini menandakan bahwa ekosistem sungai sedang terguncang.

Perubahan debit air yang terlalu ekstrem bisa mengganggu keseimbangan biologis, bahkan memicu kematian massal ikan jika tidak ditangani dengan bijak.

Tradisi, Pengetahuan Lokal, dan Kearifan Sungai

Fenomena munggut bukan hanya soal ikan mabuk. Ini adalah bagian dari pengetahuan lokal yang diwariskan turun-temurun.

Warga tahu kapan munggut akan terjadi, tahu cara menangkap ikan tanpa merusak lingkungan, dan tahu batas yang harus dijaga agar sungai tetap lestari.

Di sinilah munggut menjadi lebih dari sekadar peristiwa alam. Ia adalah ruang belajar, ruang sosial, dan ruang spiritual. Sungai bukan hanya sumber air, tapi juga sumber cerita dan kebijaksanaan.

Sungai yang Mengajarkan Kita Tentang Perubahan

Munggut mengajarkan bahwa perubahan bisa datang tiba-tiba, dan tidak semua makhluk siap menghadapinya.

Tapi ida juga menunjukkan bahwa dalam kekacauan, selalu ada ruang untuk kebersamaan dan refleksi.

Sungai yang mengalir pelan bisa berubah jadi arus deras, dan ikan yang biasanya lincah bisa jadi lemah. Begitu juga hidup.

Maka mengenal munggut bukan hanya mengenal ikan mabuk, tapi mengenal cara alam berbicara. Dan tugas kita bukan hanya menangkap ikan, tapi menangkap makna di baliknya. (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
#ikan #Bojonegoro #Bengawan Solo #ekologis