Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Iga Massardi dan Vega Antares Ungkap Batas Tipis Antara Inspirasi dan Penjiplakan dalam Dunia Musik Indonesia

Imanda Najwa Kirana Dewi • Selasa, 28 Oktober 2025 | 03:35 WIB
Vega Antares dan Iga Massardi adalah musisi dan songwriter yang aktif berkarya di industri musik.
Vega Antares dan Iga Massardi adalah musisi dan songwriter yang aktif berkarya di industri musik.

RADARTUBAN – Perdebatan mengenai plagiarisme dalam musik kembali mencuat setelah sejumlah lagu musisi Indonesia disebut memiliki kemiripan dengan karya internasional.

Fenomena ini menimbulkan diskusi hangat di kalangan pelaku industri kreatif, terutama karena menyangkut integritas dan orisinalitas seni.

Menanggapi isu tersebut, dua sosok penting di industri musik tanah air, Iga Massardi dan Vega Antares, berbagi pandangan mendalam mengenai batas tipis antara inspirasi dan penjiplakan.

Pemaparan keduanya disampaikan melalui kanal YouTube SUPERTALKS, dalam tayangan bertajuk “POV Musisi / Songwriter Soal Bedanya Inspirasi & Imitasi” yang dirilis pada 28 Februari 2025.

Inspirasi vs Jiplakan: Tipis Tapi Nyata

Baik Iga maupun Vega sepakat bahwa referensi adalah hal yang wajar dalam proses kreatif.

Namun, referensi harus diolah kembali agar menghasilkan karya dengan nilai artistik tersendiri.

Vega Antares mengibaratkan proses mencipta lagu seperti membuat sambal.

Baca Juga: Debut Perdana Kylie Jenner di Dunia Musik Lewat Lagu 'Fourth Strike'

“Kalau semua bahan diambil dari satu sumber yang sama, sambal yang dihasilkan akan sama persis. Artinya, itu bukan inspirasi lagi, tapi duplikasi,” ujarnya.

Sementara itu, Iga Massardi menegaskan pentingnya keberanian untuk memodifikasi referensi agar tidak terdengar meniru.

“Pilihan selalu ada dua: mirip dengan referensi atau dimodifikasi. Saya akan selalu memilih modifikasi, karena saya tidak ingin terdengar KW,” tegasnya.

Keduanya pun mengingatkan musisi untuk menerapkan prinsip ATM (Amati, Tiru, Modifikasi), bukan berhenti di tahap meniru semata.

Kemiripan Nada Masih Bisa Terjadi

Vega menjelaskan bahwa secara hukum, batas kemiripan notasi biasanya berada pada kisaran 7–8 bar nada.

Namun, karena jumlah kombinasi nada terbatas, kemiripan antar lagu bisa saja terjadi secara alami.

Tidak ada yang benar-benar baru di bawah matahari. Yang membedakan adalah bagaimana musisi mengolah referensi itu menjadi sesuatu yang orisinal.” tambah Iga.

Masalah Royalti dan “Beli Putus”

Diskusi semakin menarik ketika keduanya menyinggung sistem royalti di Indonesia. Vega Antares menyoroti praktik “beli putus” yang dinilai merugikan pihak produser.

“Produser dibayar di awal, tapi tidak mendapat royalti seumur hidup, padahal mereka bagian dari proses kreatif,” ungkapnya.

Senada dengan itu, Iga menilai peran produser dalam musik bukan hanya teknis, melainkan juga artistik.

“Produser mengubah daging mentah menjadi steak. Sudah saatnya produser dan session player mendapat hak royalti yang setara,” ujarnya.

Musik Bukan Sekadar Nada, Tapi Perjalanan Spiritual

Bagi Iga dan Vega, musik sejatinya bukan hanya tentang nada, popularitas, atau tren, tetapi perjalanan spiritual seorang kreator dalam menemukan suara aslinya.

Inspirasi boleh datang dari mana saja, tetapi keberanian untuk mengolah, memodifikasi, dan menemukan identitas pribadi adalah yang membuat karya bertahan lama.

“Musisi besar punya ratusan lagu yang tidak terkenal. Jangan berhenti hanya karena satu karya tidak hits,” tutup Iga.

Pesan keduanya menegaskan, karya yang abadi bukan lahir dari keinginan untuk mirip, tetapi dari tekad untuk berbeda.

Musik akan terus berkembang, tetapi integritas adalah yang menjaga ruhnya tetap hidup. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#musik #Vega Antares #industri kreatif #iga massardi #plagiarisme #seni