RADARTUBAN – Bersiaplah menyambut era digital super ngebut. Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto menyiapkan lompatan besar: menghadirkan internet berkecepatan 1 gigabit per detik (Gbps) di seluruh 38 provinsi Indonesia dalam waktu empat tahun ke depan.
Rencana ambisius itu tertuang dalam Rencana Strategis Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) 2025–2029.
Di dalamnya, pemerintah merancang peta jalan konektivitas broadband nasional dengan target koneksi cepat, merata, dan berkualitas — bukan hanya di kota besar, tapi juga menjangkau kabupaten hingga daerah pelosok.
Lima sasaran besar ditetapkan: memperluas jangkauan broadband, meningkatkan pemanfaatan internet cepat, memperbaiki kualitas jaringan nasional, menguatkan industri telekomunikasi dan pusat data, serta menumbuhkan industri perangkat digital buatan dalam negeri.
“Internet bukan lagi sekadar kebutuhan, tapi infrastruktur ekonomi dan sosial masa depan. Kita menyiapkan fondasinya dari sekarang,” demikian tertulis dalam dokumen resmi Komdigi dikutip dari CNBC Indonesia.
Target Bertahap, Mulai 2026
Pemerintah tak muluk. Konektivitas 1 Gbps bakal digelar secara bertahap. Tahun 2026, uji coba akan dilakukan di 1 kota/kabupaten.
Setahun berikutnya, diperluas ke 29 wilayah, lalu meningkat menjadi 30 kota/kabupaten pada 2028.
Target akhirnya, 38 daerah telah menikmati internet super cepat pada 2029.
Artinya, setiap tahun ada percepatan dan ekspansi konektivitas hingga seluruh Indonesia terkoneksi dalam satu standar kecepatan nasional.
Fokus di Kota Besar dan Sektor Strategis
Lonjakan kebutuhan data dan pertumbuhan pengguna internet yang eksplosif membuat kecepatan jadi isu krusial.
Komdigi menilai, kecepatan internet bukan hanya soal hiburan digital — tapi soal daya saing ekonomi, pendidikan, hingga keamanan nasional.
Khusus kota besar dan sektor strategis seperti industri, pemerintahan, dan kesehatan, peningkatan bandwidth menjadi prioritas.
Internet lambat dianggap tak lagi relevan di era ekonomi digital yang menuntut kecepatan dan efisiensi tinggi.
Indeks Digital Naik, Tapi Tantangan Masih Berat
Komdigi juga menargetkan indeks transformasi digital nasional (pilar jaringan dan infrastruktur) naik dari 56,08 pada 2025 menjadi 57,41 di 2029.
Sementara indeks pembangunan TIK nasional dipacu dari 6,10 menjadi 6,30 dalam periode yang sama.
Selain itu, pemerintah berambisi memperkuat sistem komunikasi untuk informasi kebencanaan dan kegawatdaruratan, dengan target capaian 53 persen pada 2029.
Namun, di balik angka-angka optimistis itu, tantangan besar menanti: pemerataan infrastruktur digital di wilayah 3T (tertinggal, terdepan, terluar) yang selama ini masih bergantung pada jaringan satelit dan akses terbatas.
Jika roadmap ini berjalan sesuai rencana, 2029 bisa menjadi tahun bersejarah bagi Indonesia — saat koneksi 1 Gbps bukan lagi mimpi.
Tapi, pekerjaan rumahnya tak ringan: mulai dari ketersediaan jaringan fiber optik, biaya infrastruktur, hingga kesiapan SDM digital.
Tanpa itu, target “internet secepat kilat” hanya akan jadi jargon tanpa sinyal.
Dan seperti biasa, rakyatlah yang paling tahu: seberapa cepat janji pemerintah bisa benar-benar terkoneksi ke rumah-rumah mereka. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni