Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Menkominfo Meutya Hafid: AI Bukan Ancaman, Justru Ciptakan 90 Juta Lapangan Kerja

Alifah Nurlias Tanti • Selasa, 28 Oktober 2025 | 03:31 WIB
Menkomdigi Meutya Hafid bertemu dengan pengembang game Roblox di Jakarta, Kamis (14/8).
Menkomdigi Meutya Hafid bertemu dengan pengembang game Roblox di Jakarta, Kamis (14/8).

RADARTUBAN — Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, menegaskan bahwa kecerdasan artifisial (AI) bukanlah ancaman bagi tenaga kerja manusia.

Sebaliknya, dia melihat AI sebagai peluang besar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia dan membuka jalan bagi inovasi serta lapangan kerja baru.

Diperkirakan sekitar 85 juta pekerjaan di dunia akan tergantikan oleh kecerdasan artifisial (AI) pada tahun 2025.

Meski begitu, AI juga membuka peluang besar dengan potensi menciptakan 90 juta pekerjaan baru di berbagai sektor.

"Karena itu, AI memang perlu kita cermati, tapi tidak perlu ditakuti," ujar Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, dalam pernyataannya di Jakarta, Senin (27/10).

Meutya Hafid menyebut Indonesia sebagai salah satu negara paling optimis dalam menyambut kemajuan teknologi kecerdasan artifisial (AI).

Dia menilai masyarakat Indonesia cukup terbuka dan siap beradaptasi dengan teknologi baru, tanpa rasa takut yang berlebihan.

Berdasarkan sejumlah survei, Indonesia dinilai sebagai salah satu negara yang paling siap dan terbuka dalam menyambut kehadiran kecerdasan artifisial (AI).

"Masyarakat kita tidak takut, justru antusias, dan itu jadi sinyal positif bagi masa depan teknologi di tanah air," ujar Meutya Hafid.

Meutya Hafid menegaskan, bahwa kecerdasan artifisial (AI) seharusnya dilihat sebagai mitra, bukan pengganti manusia.

"Mari kita ubah cara pandang kita terhadap AI. Jangan hanya melihatnya sebagai kumpulan data dan angka, tapi sebagai alat bantu yang bisa memperkuat kemampuan manusia dan mendorong kita jadi lebih produktif," ujarnya.

Di sisi lain, pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) tengah menyusun Peta Jalan Nasional AI sebagai panduan strategis untuk berbagai sektor.

Meutya Hafid menjelaskan bahwa regulasi ini dirancang agar menjadi acuan bersama dalam menghadapi perkembangan teknologi dan ditargetkan akan terbit sebagai Peraturan Presiden pada awal 2026.

"Insyaallah, di awal tahun 2026 nanti, Peraturan Presiden tentang peta jalan ini bisa diterbitkan dan menjadi panduan bersama dalam menghadapi perkembangan AI," ujar Meutya Hafid dengan penuh harap.

Selain menyiapkan regulasi, pemerintah juga menaruh perhatian besar pada pemerataan akses digital.

Tujuannya jelas: memastikan seluruh lapisan masyarakat bisa merasakan manfaat kecerdasan artifisial (AI), tanpa ada yang tertinggal.

"Hal yang tak kalah penting adalah memastikan teknologi AI ke depan bisa dinikmati secara inklusif oleh semua kalangan. Untuk itu, kami telah melelang frekuensi 1,4 GHz sebagai langkah menghadirkan akses internet yang lebih terjangkau dan merata di seluruh Indonesia," jelas Meutya Hafid.

Di sisi lain, Meutya Hafid mengajak semua pihak untuk memanfaatkan kecerdasan artifisial (AI) dengan bijak dan penuh tanggung jawab.

Menurutnya, jika digunakan dengan cara yang tepat, AI bisa menjadi kekuatan positif yang membawa banyak manfaat bagi masyarakat. (*/tia)

Editor : radar tuban digital
#Artifical Intelligence #AI #kerja #digital #Menteri Komunikasi dan Digital #presiden #teknologi #pemerintah #pekerjaan #Indonesia